JurnalPatroliNews – Jakarta – Kabar mengenai CEO Tesla, Elon Musk, yang disebut akan menerima bonus senilai 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp 16.600 triliun ternyata tidak benar. Laporan The New Yorker pada Rabu (12/11/2025).
menjelaskan bahwa angka tersebut hanyalah nilai teoritis dari paket kompensasi berbasis saham yang disusun berdasarkan target kinerja ekstrem, bukan uang tunai yang akan diterima Musk.
Jurnalis Brian Phillips menulis bahwa skema gaji baru Musk bersifat insentif murni, tanpa gaji tetap. “Elon Musk tidak akan mendapatkan gaji tunai. Ia hanya akan menerima saham Tesla jika perusahaannya mencapai target-target tertentu,” tulis Phillips.
Paket insentif baru ini muncul setelah rencana kompensasi sebelumnya dibatalkan oleh pengadilan. Namun, target yang ditetapkan Tesla kali ini dinilai sangat sulit, seperti meningkatkan nilai pasar hingga 8,5 triliun dolar AS, menjual 10 juta langganan software mobil tanpa sopir, serta memproduksi satu juta unit taksi otonom dan satu juta robot pekerja.
“Target-target itu pada dasarnya tidak realistis,” lanjut Phillips dalam artikelnya.
CNBC dan Reuters melaporkan bahwa 75 persen pemegang saham Tesla menyetujui paket kompensasi tersebut dalam rapat pemegang saham pada 6 November 2025.
Meski demikian, banyak analis menilai bahwa dukungan investor lebih karena kepercayaan terhadap visi besar Musk ketimbang hasil nyata Tesla.
Phillips juga mengkritik pola janji besar Musk yang kerap tidak terwujud, termasuk rencana meluncurkan satu juta mobil taksi otomatis pada 2020, yang hingga kini belum terealisasi.
“Prediksi Tesla tentang mobil tanpa sopir bahkan punya halaman sendiri di Wikipedia karena terlalu sering meleset,” tulisnya.
Ia menilai isu “bonus Rp 16.600 triliun” lebih merupakan strategi komunikasi dan pencitraan daripada fakta keuangan.
“Angka fantastis itu memberi kesan bombastis, tapi sebenarnya hanya gimmick untuk menarik perhatian media dan investor,” ujar Phillips.
Meski demikian, dukungan terhadap Musk tetap kuat karena sebagian investor percaya pada potensi masa depan Tesla.
“Harga saham Tesla kini lebih banyak ditopang oleh cerita dan harapan tentang masa depan, bukan hasil nyata,” tulis Phillips.
Fenomena ini disebut sebagai “ekonomi berbasis narasi”, di mana nilai perusahaan lebih ditentukan oleh kemampuan menjual visi futuristik daripada produk nyata. “Elon Musk pandai menjual mimpi. Tetapi sejauh ini, sebagian besar masih sebatas janji,” tutup Phillips.














