JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya hilirisasi bahan alam untuk industri farmasi dan kosmetik sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Strategi ini sejalan dengan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) yang tengah digulirkan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa dengan lebih dari 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan aktif obat, kosmetik, maupun suplemen kesehatan.
“Potensi besar ini tentu akan menjadi modal untuk memperkuat industri berbasis inovasi dan kearifan lokal,” ujar Agus saat membuka acara Indonesia Pharmaceutical & Cosmetics For Sustainability (IPCS), Kamis (13/11/2025).
Data Kementerian Perindustrian mencatat, dari 219 industri farmasi mayoritas merupakan industri besar. Sementara itu, dari sekitar 1.200 industri kosmetik, 89% merupakan usaha kecil dan menengah. Untuk obat berbahan alam, terdapat 1.043 industri dengan 86% didominasi industri kecil dan menengah.
Agus menekankan, Kemenperin secara konsisten memperkuat transformasi sektor ini melalui peningkatan kapasitas produksi, riset dan inovasi, serta kemitraan antara industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah.
“Tujuannya jelas, agar Indonesia bukan hanya menjadi pasar, tetapi produsen utama produk kesehatan dan kecantikan berbasis inovasi, untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun global,” tegasnya.
Hilirisasi, menurut Agus, merupakan program utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan menjadi kunci penguatan daya saing industri nasional.
Dengan mengolah potensi bahan lokal, seperti minyak atsiri, rempah, dan tanaman obat menjadi bahan aktif berkualitas internasional, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga membangun rantai pasok yang kuat, efisien, dan berkelanjutan.
“Kemenperin terus memfasilitasi pengembangan pilot project bahan baku, obat, dan kosmetik, serta membangun center of excellence untuk riset dan pengujian bahan alam. Ini bagian dari strategi besar industrialisasi dan hilirisasi sektor kesehatan nasional,” jelas Agus.
Ia menilai penyelenggaraan Indonesia Pharmaceutical & Cosmetics For Sustainability 2025 menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
“Melalui ajang ini, mari tunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi pemain utama industri kesehatan dan kecantikan global yang inovatif dan berkelanjutan,” pungkasnya














