JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan siap memajukan kerangka kerja perdamaian yang didukung Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Ia juga membuka ruang diskusi dengan Presiden AS Donald Trump, tetapi menegaskan bahwa pembicaraan harus melibatkan sekutu Eropa agar keputusan tidak diambil tanpa Ukraina.
Para pejabat AS dan Ukraina hingga kini masih berusaha menjembatani perbedaan pandangan terkait rencana perdamaian Trump, yang dinilai Kyiv berpotensi memaksa Ukraina menerima kesepakatan berdasarkan persyaratan Rusia, termasuk konsesi wilayah.
Dalam pidatonya kepada koalisi sekutu, salinannya diperoleh Reuters, Zelensky menekankan bahwa keamanan Ukraina dan keamanan Eropa harus dibahas bersama negara-negara yang terdampak, bukan ditentukan secara sepihak.
“Kami sangat yakin bahwa keputusan keamanan terkait Ukraina harus mencakup Ukraina, keputusan keamanan terkait Eropa harus mencakup Eropa,” ujarnya.
“Karena ketika sesuatu diputuskan tanpa sepengetahuan suatu negara atau rakyatnya, selalu ada risiko tinggi bahwa keputusan itu tidak akan berhasil,” lanjutnya.
Zelensky juga menegaskan komitmennya terhadap kerangka damai tersebut.
“Kerangka kerja itu sudah ada di atas meja, dan kami siap untuk bergerak maju bersama AS, dengan keterlibatan pribadi Presiden Trump,” katanya.
Trump sebelumnya mendorong percepatan pembahasan dengan menetapkan tenggat, namun sikap itu berubah pada Selasa (25/11/2025) malam. “Batas waktu bagi saya adalah ketika semuanya berakhir,” ujarnya. “Dan saya rasa semua orang sudah lelah berjuang.”
Ia menegaskan bahwa rencana perdamaian 28 poin yang ia luncurkan tidak bersifat final. “Itu hanya peta. Itu sebuah konsep,” katanya.
Trump mengirim utusan khusus Steve Witkoff untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Sementara itu, Sekretaris Angkatan Darat AS Dan Driscoll dijadwalkan tiba di Kyiv untuk bertemu pejabat Ukraina pekan ini.
“Saya berharap dapat segera bertemu dengan Presiden Zelensky dan Presiden Putin, tetapi hanya ketika kesepakatan untuk mengakhiri perang ini final atau dalam tahap akhir,” tulis Trump di media sosial.
Seorang diplomat Ukraina memperingatkan bahwa isu konsesi teritorial tetap menjadi hambatan utama, meskipun kedua pihak telah mencapai titik temu di beberapa aspek lain.
“Ini pertanyaan yang sangat sulit bagi kami,” ujarnya.
Ketidakpastian negosiasi meningkat setelah Kyiv kembali dihantam serangan rudal dan ratusan drone Rusia semalam, menewaskan tujuh orang dan merusak sistem listrik serta pemanas. Warga terpaksa berlindung di bawah tanah.
Zelensky dikabarkan dapat melakukan kunjungan ke AS dalam beberapa hari mendatang untuk mempercepat pembahasan, meski belum ada konfirmasi dari Washington.
Pada Minggu, para negosiator AS dan Ukraina bertemu di Jenewa membahas rencana damai versi baru AS. Driscoll kemudian bertemu pejabat Rusia di Abu Dhabi pada Senin dan Selasa.
“Ukraina mendukung esensi kerangka kerja tersebut, dan beberapa isu paling sensitif tetap menjadi poin pembahasan antar presiden,” ujar seorang pejabat Ukraina.
Perubahan kebijakan AS dalam beberapa bulan terakhir membuat Kyiv waspada. Pertemuan mendadak Trump–Putin di Alaska pada Agustus memicu kekhawatiran bahwa AS akan menerima banyak tuntutan Rusia.
Rencana 28 poin yang muncul pekan lalu bahkan mengejutkan pejabat AS sendiri dan memicu kekhawatiran bahwa Washington mungkin akan menekan Ukraina untuk menyetujui syarat yang dianggap terlalu menguntungkan Rusia.
Rencana itu mencakup tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayah di luar hampir 20 persen yang kini dikuasai Rusia, membatasi kemampuan militernya, serta melarang bergabung dengan NATO, syarat yang selama ini tegas ditolak Kyiv.
Tekanan semakin berat bagi Zelensky, terlebih setelah skandal korupsi menyebabkan dua menteri dipecat, sementara Rusia terus memperoleh keuntungan di medan perang.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa rancangan akhir kesepakatan harus mencerminkan apa yang disebutnya sebagai “semangat dan isi” pemahaman antara Putin dan Trump di Alaska.
“Jika semangat dan isi Perjanjian Anchorage dihapuskan dari pemahaman utama yang telah kita bangun, situasinya akan sangat berbeda bagi Rusia,” ujar Lavrov.














