JurnalPatroliNews – Jakarta – Dua dari empat desa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hilang total setelah diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Hingga Sabtu (6/12/2025), bencana tersebut masih menyisakan trauma yang mendalam bagi warga yang terdampak.
Ratusan penduduk dari Desa Kuta Teungeug dan Menasah Suak terpaksa mengungsi ke hutan dengan kondisi sangat memprihatinkan.
Mereka bertahan hidup bersama keluarga tanpa tempat tinggal yang layak, minim logistik, dan akses terbatas terhadap air bersih.
Para pengungsi membangun tenda darurat menggunakan terpal seadanya. Anak-anak, perempuan, dan lanjut usia harus menghadapi udara dingin dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Untuk memenuhi kebutuhan harian, warga hanya mengandalkan aliran air dari pegunungan yang berada tidak jauh dari lokasi pengungsian.
Petugas gabungan dari pemerintah daerah, relawan, dan aparat keamanan terus berusaha menjangkau titik pengungsian yang berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman terdampak.
Bantuan berupa bahan makanan, selimut, dan perlengkapan dasar telah dikirimkan, namun jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan lebih dari 300 pengungsi.
Salah seorang warga, Ermawati, mengungkapkan bahwa ia sudah sepuluh hari bertahan di hutan bersama keluarganya. “Saya sudah 10 hari di hutan, entah sampai kapan harus bertahan di sini karena semua harta benda habis tak tersisa, termasuk rumah,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan banyak pengungsi mulai jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu dan minimnya fasilitas kesehatan. Beberapa warga bahkan harus dirujuk ke rumah sakit menggunakan ambulans puskesmas karena kondisinya semakin memburuk.
“Banyak yang sakit, rata-rata yang mengungsi sakit semuanya. Alhamdulillah, ada tim medis yang ke pengungsian memberikan obat-obatan,” katanya.
Ermawati menuturkan bahwa meskipun bantuan terus berdatangan ke posko utama, distribusinya belum sepenuhnya menjangkau para pengungsi yang berada di dalam hutan. Kondisi medan yang sulit turut menyulitkan proses penyaluran bantuan.
Saat ini, para pengungsi masih bertahan di tengah hutan sambil menunggu proses penyaluran bantuan lanjutan. Mereka berharap pemerintah segera membangun kembali rumah-rumah yang hilang agar warga bisa kembali menjalani kehidupan normal pascabencana.














