JurnalPatroliNews – Jakarta – Sebanyak 5.000 bibit pohon mangrove ditanam di Pantai Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta. Penanaman ribuan mangrove ini bertujuan mencegah abrasi yang terus menggerus garis pantai di wilayah pesisir Bantul.
Berdasarkan kajian BPBD Bantul, hampir seluruh kawasan pesisir mengalami abrasi dengan jarak terjauh mencapai 96 meter dan laju rata-rata 2,3 meter per tahun.
Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya badai siklon dan berkurangnya suplai sedimen dari sungai.
Penanaman mangrove menjadi langkah strategis menghadapi ancaman abrasi dan intrusi, terutama di pesisir selatan Bantul yang dikenal memiliki karakter ombak besar. Upaya ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, tidak hanya pemerintah.
“Penanaman mangrove akan memperbaiki lingkungan hidup dan meningkatkan resiliensi Pantai Baros dari abrasi maupun intrusi,” ujar Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih di Yogyakarta, Minggu (7/12/2025).
Bupati Bantul menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan ratusan anak muda, terutama generasi Z, yang ikut turun langsung menanam bibit mangrove.
Ia menyebut partisipasi tersebut sebagai bukti tingginya kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
Aksi penanaman 5.000 mangrove ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, komunitas lingkungan, dan generasi muda.
Kegiatan yang digelar Amarta.org bersama Yayasan Ikamat bertujuan menambah tutupan vegetasi sekaligus memperkuat peran pemuda dalam menjaga masa depan pesisir.
Chairman Amarta.org, Aria Widyanto, menjelaskan bahwa penanaman mangrove di Baros adalah bagian dari upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat lokal terhadap dampak perubahan iklim. Menurutnya, keberlanjutan lingkungan berhubungan erat dengan kesejahteraan masyarakat, termasuk para pelaku UMKM yang menjadi fokus pihaknya.
“Risiko perubahan iklim dapat mengancam kesejahteraan para pelaku UMKM. Karena itu intervensi lingkungan seperti ini adalah investasi jangka panjang agar mereka tetap memiliki peluang berkembang,” kata Aria.
Ia juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda, bukan hanya sebagai edukasi, tetapi menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan.
“Kalau lingkungan rusak, generasi muda yang paling dirugikan. Karena itu kami mengajak Gen Z untuk tidak hanya sadar, tetapi juga terlibat sebagai relawan,” ujarnya.
Sekitar 80 relawan dari Jakarta, Jawa Tengah, dan DIY ikut terjun langsung menanam mangrove, bersama komunitas lokal dan para petani di kawasan Baros.














