Rusia Abaikan Tekanan Barat, Pengapalan LNG ke China Dilakukan Terang-Terangan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Moskow semakin menunjukkan sikap menantang terhadap sanksi negara-negara Barat dengan secara terbuka menyalurkan gas alam cair (LNG) ke China. Langkah ini dilakukan meskipun komoditas tersebut beserta kapal pengangkutnya masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Berdasarkan laporan AFP yang dikutip pada Sabtu, 13 Desember 2025, sebuah kapal tanker LNG bernama Valera pekan lalu bersandar di terminal Beihai, wilayah selatan China. Kapal itu membawa sekitar 160 ribu ton LNG yang diproduksi di fasilitas Portovaya milik Gazprom di kawasan Laut Baltik. Pengiriman tersebut menjadi ekspor luar negeri perdana dari fasilitas itu sejak sanksi diberlakukan pada Januari 2025.

Kedatangan kapal Valera terverifikasi melalui data pelacakan maritim dan citra satelit. Berbeda dengan pola sebelumnya, tanker tersebut tidak menutup identitas atau rute pelayarannya, bahkan membiarkan sistem pelacak otomatis (AIS) tetap aktif hampir sepanjang perjalanan. Perubahan ini mencerminkan sikap baru Rusia dan China, yang sebelumnya hanya melakukan transaksi LNG Rusia yang tidak tersentuh sanksi.

Kerja sama energi antara kedua negara pun kian menguat. Sejak Agustus hingga awal Desember 2025, tercatat sedikitnya 18 muatan LNG dari proyek Arctic LNG—yang juga berada di bawah sanksi—telah tiba di terminal Beihai. Total volume yang masuk ke China melampaui satu juta ton, diangkut oleh kapal-kapal yang sebagian besar dibatasi oleh kebijakan sanksi Barat.

Para pengamat menilai dinamika politik global turut mendorong perubahan ini. Peneliti Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, Anne-Sophie Corbeau, menyebut bahwa pergantian pemerintahan di Amerika Serikat serta melemahnya sinyal tekanan membuat Rusia dan China berani menguji batas sanksi. Menurutnya, sikap Washington yang dinilai lebih longgar memberi ruang bagi Beijing untuk menerima LNG yang sebelumnya dihindari.

Fenomena “armada gelap” yang dahulu menyamarkan pergerakan kapal kini mulai menghilang. Kapal-kapal tersebut kembali berlayar secara terbuka tanpa manipulasi data lokasi. Direktur Eikland Energy, Kjell Eikland, menilai perubahan ini menunjukkan berkurangnya kekhawatiran terhadap sanksi. Ia menyebut, cepat atau lambat pergerakan kapal akan diketahui publik, sehingga upaya penyamaran dianggap tidak lagi relevan.

Bagi China, pasokan LNG dari Rusia menawarkan keuntungan ekonomi signifikan. Harga yang diberikan jauh lebih rendah dibandingkan pasokan lain, dengan potongan yang disebut mencapai hingga 40 persen. Selain aspek komersial, langkah ini juga sarat pesan politik. Jurnalis energi Malte Humpert menilai Beijing ingin menegaskan bahwa kemitraan dengan Moskow tetap berjalan meski ada tekanan dari Barat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada LNG asal Amerika Serikat.

Sementara bagi Rusia, ekspor ini bukan semata soal keuntungan. Meski margin keuntungan tergerus akibat diskon besar dan tingginya biaya logistik, pengiriman LNG ke China memiliki nilai strategis dan geopolitik. Dengan Eropa berencana menghentikan impor LNG Rusia pada 2027, pasar China menjadi penopang utama agar proyek-proyek LNG Moskow tetap beroperasi dan jalur energi strategis di kawasan Arktik terus berlanjut.