Kalah Saing dengan Pemain Lokal, Starbucks Lepas 60 Persen Saham Unit Bisnis China Senilai US$ 4 Miliar

JurnalPatroliNews – Jakarta – Sejumlah raksasa makanan dan minuman asal Barat mulai melepas kepemilikan mayoritas bisnis mereka di China kepada dana ekuitas swasta atau private equity lokal.

Langkah strategis ini ditempuh di tengah persaingan pasar yang kian sengit serta perubahan perilaku konsumen di Tiongkok yang menuntut adaptasi bisnis secara cepat.

Model kemitraan baru ini terlihat jelas pada langkah Starbucks dan Burger King yang menjual saham besar unit bisnis mereka kepada investor lokal. Strategi tersebut diklaim sebagai upaya untuk memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan pasar.

Perusahaan lokal dinilai lebih lincah dalam melakukan perombakan menu, penyesuaian harga, serta ekspansi agresif ke kota-kota tingkat bawah dibandingkan jika harus bergantung pada keputusan kantor pusat global.

Berdasarkan data pasar, Starbucks melepas 60 persen saham unit China kepada Boyu Capital dalam kesepakatan senilai sekitar 4 miliar dolar AS.

Sementara itu, CPE Capital mengakuisisi sekitar 83 persen saham operasional Burger King China dengan investasi sebesar 350 juta dolar AS. Kedua transaksi besar ini masih menunggu persetujuan regulator dan diperkirakan akan rampung pada tahun depan.

Tekanan terhadap merek Barat di China semakin besar seiring melesatnya pemain domestik yang menawarkan harga kompetitif dan strategi digital lebih tajam.

Sebagai contoh, Luckin Coffee kini telah melampaui Starbucks dalam hal volume penjualan dan jumlah gerai.

Di sisi lain, Restaurant Brands International mencatat performa Burger King China yang cenderung melemah dibandingkan pasar utama lainnya di dunia.

Kemitraan dengan pihak lokal tidak hanya membawa suntikan modal, tetapi juga akses ke jaringan pemasok, distributor, hingga hubungan regulator yang lebih kuat. Meskipun kehilangan kendali mayoritas, perusahaan induk masih akan mendapatkan keuntungan melalui skema royalti.

Tren ini mencerminkan pergeseran strategi perusahaan Barat dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan lemahnya permintaan konsumen domestik di Tiongkok.