Kapolri Jenderal Listyo Sigit: Indonesia Berhasil Mitigasi Dampak ‘Agustus Kelabu’ 2025

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan sorotan khusus terhadap fenomena kerusuhan global yang terjadi sepanjang tahun 2025 dalam kegiatan Rilis Akhir Tahun Polri di Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 30 Desember 2025.

Dalam paparannya, Kapolri membandingkan situasi keamanan di beberapa negara seperti Nepal, Myanmar, dan Brasil dengan dinamika yang terjadi di dalam negeri.

Sigit menjelaskan bahwa kerusuhan besar di Nepal pada September 2025 yang dipicu oleh gerakan generasi muda telah membawa dampak fatal, dengan 72 korban jiwa dan keruntuhan ekonomi. Sektor otomotif dan perhotelan di sana mengalami kerugian triliunan rupiah, sementara pertumbuhan ekonomi merosot di bawah 1 persen.

Situasi serupa juga terjadi di Myanmar akibat konflik wilayah dan di Brasil akibat baku tembak kepolisian dengan kartel narkoba yang melumpuhkan pusat perniagaan.

Menurut Kapolri, kerusuhan di negara-negara tersebut tidak hanya merusak infrastruktur secara fisik, tetapi juga memicu krisis kepercayaan publik yang mendalam terhadap pemerintah dan hukum.

Ketidakmampuan memitigasi konflik menyebabkan dampak ekonomi yang serius, mulai dari pelemahan nilai mata uang hingga defisit anggaran yang membengkak.

Dalam konteks nasional, Jenderal Sigit mengakui bahwa Indonesia tidak luput dari tantangan serupa. Ia menyinggung peristiwa yang sempat menghangat pada akhir Agustus hingga September 2025, yang sering disebut sebagai fenomena Agustus Kelabu atau September Gelap.

Namun, ia menegaskan terdapat perbedaan mendasar pada hasil akhirnya dibandingkan negara-negara lain.

Kapolri menyampaikan rasa syukur karena Indonesia mampu melewati tantangan tersebut dengan baik. Berkat sinergi seluruh pihak, peristiwa yang terjadi dapat segera diatasi dan dampak seriusnya dapat dimitigasi.

Keberhasilan ini memastikan bahwa aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat tetap berjalan normal tanpa harus mengalami krisis ekonomi berkepanjangan seperti yang dialami beberapa negara tetangga di Asia dan Amerika Latin.