Desakan Publikasi CCTV Kasus Pelecehan di Bus TransJakarta

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta bersikap tegas dan konsisten menerapkan prinsip tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan seksual yang terjadi di transportasi umum. Penegasan ini disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto, menyusul mencuatnya dugaan pelecehan seksual yang dialami penumpang TransJakarta.

Kasus tersebut terjadi di armada bus TransJakarta rute Balai Kota–Pantai Maju, tepatnya saat bus melintas dari Halte Monas. Wahyu menilai insiden ini tidak boleh dianggap sepele dan harus ditangani secara serius hingga tuntas.

“Pelakunya wajib ditelusuri dan diproses secara tegas,” ujar Wahyu dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat (2/1/2025).

Ia menambahkan, langkah hukum yang tegas penting dilakukan agar memberikan efek jera dan mencegah kejadian serupa terulang. Bahkan, menurutnya, tidak menutup kemungkinan rekaman kamera pengawas dapat dipublikasikan sebagai bentuk transparansi.

“Jika diperlukan, rekaman CCTV bisa dibuka ke publik,” kata legislator dari Partai Gerindra tersebut.

Sebelumnya, sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan pengakuan seorang penumpang TransJakarta yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual selama perjalanan. Dalam narasinya, korban menyebut dirinya sempat tertidur di dalam bus.

Ketika bus memasuki kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), korban terbangun dan menyadari bagian pahanya disentuh oleh pria yang duduk di sebelahnya.

“Selama perjalanan saya tertidur. Saat masuk PIK dan masih dalam kondisi tidur, dia menyentuh paha saya sambil mengelus. Saya langsung terbangun dan refleks terdiam,” tulis korban melalui akun media sosialnya, dikutip Kamis (1/1/2025).

Korban juga mengungkapkan bahwa terduga pelaku sempat mengakui perbuatannya. Namun, setelah penumpang lain serta petugas mengetahui kejadian tersebut, pelaku justru membantah dan berdalih bahwa tindakannya tidak disengaja karena tertidur.

Di akhir keterangannya, korban meminta pihak TransJakarta meningkatkan pengawasan serta menindaklanjuti kasus ini secara serius. Ia menilai kemungkinan masih banyak korban lain yang mengalami kejadian serupa namun memilih diam karena takut atau tidak berani melapor.

“Mohon pengawasan diperketat dan kejadian seperti ini benar-benar ditindaklanjuti. Bisa jadi bukan hanya saya, masih banyak korban lain yang belum berani bersuara,” pungkasnya.