Gaungkan Revolusi Nasional, Reza Pahlavi Nyatakan Siap Pulang ke Iran Usai Puluhan Tahun Diasingkan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang protes yang terus membesar di Iran memunculkan kembali sosok lama dalam sejarah politik negeri itu. Reza Pahlavi, pewaris terakhir Dinasti Pahlavi yang telah hidup di pengasingan selama lebih dari 40 tahun, kini melontarkan seruan paling radikal sepanjang kiprah politiknya. Ia tidak lagi sekadar mendorong aksi demonstrasi, melainkan mengajak rakyat menguasai pusat-pusat kota sebagai langkah menuju perubahan total.

Dalam pernyataan yang dikutip dari Iran International, Sabtu, 10 Januari 2026, Pahlavi menilai kondisi saat ini sebagai momen paling rentan bagi pemerintahan Iran. Ia secara khusus mengimbau para pekerja di sektor strategis, terutama energi dan transportasi, untuk menggelar pemogokan nasional yang terkoordinasi.

Langkah tersebut, menurutnya, merupakan cara paling efektif untuk melumpuhkan kekuasaan dari dalam dengan menghantam sumber utama pergerakan ekonomi negara.

“Ketika aliran keuangan Republik Islam terputus, maka kemampuan mereka untuk terus menindas rakyat akan runtuh,” ujar Pahlavi, menegaskan bahwa perlawanan harus memasuki tahap tekanan ekonomi yang konsisten dan berkelanjutan.

Bagi Reza Pahlavi, panggilan ini bukan semata agenda politik, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuntaskan luka sejarah. Ia lahir di Teheran pada 1960 sebagai calon penerus takhta Iran. Namun takdirnya berubah drastis saat Revolusi Islam 1979 menggulingkan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, dan memaksa keluarga kerajaan melarikan diri ke luar negeri.

Sejak saat itu, Reza hidup di pengasingan di Amerika Serikat dan belum pernah kembali ke tanah kelahirannya. Kehidupan jauh dari tanah air membawa dampak berat bagi keluarganya. Trauma kehilangan kekuasaan dan identitas membuat keluarganya terpuruk; dua saudaranya, Pangeran Alireza dan Putri Leila, meninggal dunia setelah bertahun-tahun bergulat dengan depresi.

Walau tak pernah ditahan secara fisik, Reza Pahlavi pada dasarnya adalah buronan hukum Iran. Pemerintah Teheran telah menjatuhkan vonis mati secara in absentia kepadanya dengan tuduhan pengkhianatan dan konspirasi terhadap negara. Upaya Iran untuk memburunya melalui mekanisme internasional dan Interpol berulang kali kandas karena negara-negara Barat menilai kasus tersebut sarat muatan politik.

Kini, meski risiko hukuman mati masih membayangi, Pahlavi menyatakan tidak gentar. Ia mengajak warga Iran untuk terus menguasai ruang publik setiap malam mulai pukul 18.00 waktu setempat, sambil membawa simbol-simbol nasional sebagai tanda perlawanan terbuka terhadap rezim.

Pesannya ditutup dengan pernyataan paling berani sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya: ia tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke Iran. Setelah 47 tahun hidup di pengasingan, Reza Pahlavi berjanji akan berdiri bersama rakyat dan ikut menyongsong apa yang ia sebut sebagai kemenangan “revolusi nasional” yang diyakininya sudah di depan mata.