Emas Bersinar di 2026, Goldman Sachs Ingatkan Ancaman di Balik Tren

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kenaikan harga emas yang menembus rekor sepanjang 2026 tidak serta-merta menjadikannya instrumen paling aman bagi investor. Lembaga keuangan global Goldman Sachs justru mengingatkan adanya potensi risiko besar yang kerap luput diperhitungkan di tengah euforia pasar logam mulia.

Dalam kajiannya, Goldman Sachs menilai emas bukan aset bebas gejolak. Secara historis, logam mulia ini pernah mengalami penurunan nilai yang sangat dalam, bahkan mencapai sekitar 70 persen pada periode tertentu. Tingkat volatilitas tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat yang selama ini berfungsi sebagai penyeimbang risiko dalam portofolio investasi.

Goldman juga mencatat bahwa pergerakan harga emas cenderung lebih tidak stabil dibandingkan saham Amerika. Ketika tren berbalik arah, potensi kerugian emas dinilai bisa jauh lebih tajam.

Dari sisi perlindungan inflasi, kinerja emas pun tidak selalu konsisten. Data historis menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 20 tahunan, emas hanya efektif mengimbangi laju inflasi pada sekitar separuh periode tersebut. Sebaliknya, pasar saham AS dinilai lebih mampu menjaga dan meningkatkan nilai kekayaan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Didukung oleh pertumbuhan laba korporasi dan fondasi ekonomi yang lebih kuat, saham AS dinilai Goldman Sachs sebagai instrumen yang lebih dapat diandalkan untuk akumulasi kekayaan dibandingkan emas.

Sementara itu, minat investor terhadap emas terlihat melonjak tajam. Dalam satu hari perdagangan di awal pekan ini, tercatat arus dana masuk sebesar 950 juta dolar AS ke ETF SPDR Gold Shares (GLD), mencerminkan fenomena “berburu emas” di pasar global.

Meski harga emas mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar saham pada awal 2026, Goldman Sachs tetap merekomendasikan strategi overweight pada saham AS, selama belum ada indikasi kuat terjadinya resesi ekonomi.

Menurut Goldman, lonjakan harga emas saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor geopolitik dan ekspektasi perubahan suku bunga. Namun secara fundamental, risiko koreksi jangka panjang masih membayangi, terutama bagi investor ritel yang hanya mengikuti tren tanpa perhitungan matang.