Jelang Perundingan Februari, Serangan Masif Rusia Lumpuhkan Infrastruktur Listrik Ukraina

JurnalPatroliNews – Jakarta – Serangan udara besar-besaran yang diluncurkan Rusia pada Selasa (28/1/2026) dini hari waktu setempat telah mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas di berbagai wilayah Ukraina.

Salah satu insiden paling memprihatinkan terjadi di wilayah timur laut Kharkiv, di mana sebuah drone Rusia menghantam kereta penumpang yang tengah mengangkut hampir 200 orang.

Perdana Menteri Ukraina, Yulia Svyrydenko, mengonfirmasi bahwa lima orang kehilangan nyawa dalam serangan terhadap moda transportasi sipil tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras aksi tersebut melalui kanal media sosialnya. Ia menegaskan bahwa pembunuhan warga sipil di dalam gerbong kereta sama sekali tidak memiliki pembenaran militer.

Zelensky juga menilai bahwa tindakan agresif Moskow ini secara langsung merusak momentum diplomasi yang sedang dibangun, mengingat kedua negara baru saja melakukan pembicaraan langsung beberapa hari sebelumnya untuk mencari jalan keluar atas perang yang telah memasuki tahun keempat.

Selain Kharkiv, kota pelabuhan Odesa menjadi sasaran utama dengan rentetan lebih dari 50 drone. Serangan di Odesa menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 30 warga, termasuk seorang perempuan yang tengah hamil tua serta dua anak perempuan.

Infrastruktur sipil seperti sekolah, taman kanak-kanak, gedung permukiman, hingga tempat ibadah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Tim penyelamat hingga saat ini masih terus menyisir puing-puing bangunan yang runtuh untuk mencari kemungkinan korban lainnya.

Dampak serangan ini juga memicu krisis energi yang luas. Fasilitas milik perusahaan energi swasta DTEK dan perusahaan gas negara Naftogaz kembali menjadi sasaran, menyebabkan jutaan warga kehilangan akses listrik dan pemanas di tengah suhu musim dingin yang ekstrem.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah merebut dua desa tambahan di Zaporizhzhia dan Kharkiv seiring pergerakan maju pasukan mereka. Situasi ini menjadi ujian berat bagi putaran perundingan lanjutan yang dijadwalkan akan berlangsung pada 1 Februari mendatang.