JurnalPatroliNews – Jakarta – Film dokumenter resmi yang mengangkat sosok Melania Trump justru menuai hasil mengecewakan di Inggris. Pada penayangan perdananya di salah satu bioskop besar London, film produksi Amazon tersebut dilaporkan hanya mampu menarik satu orang penonton, meski digarap dengan anggaran fantastis.
Mengutip laporan Indiatimes pada Kamis, 29 Januari 2026, Amazon MGM Studios disebut menggelontorkan dana sekitar 40 juta dolar AS—setara Rp667 miliar—untuk memperoleh hak produksi dokumenter tersebut. Tak berhenti di situ, perusahaan raksasa teknologi itu juga menyiapkan dana promosi global tambahan senilai 35 juta dolar AS.
Sebagian besar anggaran pemasaran difokuskan di Amerika Serikat, mulai dari iklan televisi nasional, papan reklame raksasa, hingga promosi di The Sphere, arena hiburan futuristik di Las Vegas. Namun, gaung promosi besar tersebut tidak sebanding dengan minat penonton di Inggris.
Di bioskop Vue Islington, London, pemutaran pertama pada pukul 15.10 waktu setempat hanya mencatat satu tiket terjual. Sementara jadwal berikutnya pada pukul 18.00 hanya dihadiri dua orang. Fakta ini pertama kali diungkap oleh harian The Guardian.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai kota lain. Berdasarkan pemantauan hingga berita ini diterbitkan, seluruh kursi untuk 28 jadwal pemutaran di jaringan bioskop Vue di Blackburn, Castleford, dan Hamilton masih kosong. Di jaringan Cineworld, penjualan tiket juga sangat rendah, dengan hanya empat tiket terjual di Wandsworth dan lima kursi terisi di Broughton.
Menanggapi gelombang kritik, perwakilan Vue, Richards, mengungkapkan kepada The Telegraph bahwa pihak bioskop menerima banyak surat elektronik berisi keberatan dari publik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa bioskop tetap menayangkan film selama telah lolos klasifikasi British Board of Film Classification (BBFC).
“Kami bukan pihak yang berwenang menghakimi atau menyensor film,” ujarnya.
Dokumenter tersebut menyoroti periode 20 hari menjelang kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan pada Januari 2025. Film ini bahkan sempat diputar secara terbatas di Gedung Putih dan dijadwalkan tayang di Kennedy Center, Washington—gedung yang sebelumnya diganti namanya menjadi Trump–Kennedy Center, sebuah kebijakan yang masih memicu polemik hukum. Secara global, film ini direncanakan beredar di 27 negara.
Rendahnya minat penonton, berbanding terbalik dengan biaya produksi dan promosi yang jumbo, menjadi bahan ejekan di media sosial. Sejumlah warganet menyebut kondisi ini ironis dan mempertanyakan siapa target penonton film tersebut.
Ada pula yang menyindir Amazon karena dinilai menghamburkan puluhan juta dolar untuk mempromosikan film yang justru diputar di bioskop nyaris tanpa penonton. Komentar lebih pedas bahkan menyebut dokumenter ini sebagai kegagalan besar yang mencoreng citra Amazon sekaligus keluarga Trump.














