China Eksekusi Mati 11 Anggota Sindikat Scam Myanmar yang Rugikan Negara Rp 16 Triliun

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah China melaksanakan eksekusi mati terhadap 11 anggota sindikat kejahatan keluarga yang berbasis di Myanmar pada Kamis (29/1/2026).

Pengadilan Rakyat Menengah Kota Wenzhou mengumumkan bahwa para terpidana tersebut dinyatakan bersalah atas serangkaian tindak pidana berat, termasuk operasi penipuan digital dan perjudian daring yang nilainya mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 16,77 triliun.

Selain kerugian finansial, kelompok ini bertanggung jawab atas kematian 14 warga negara China dalam menjalankan operasinya.

Dua tokoh sentral yang memimpin jaringan ini, yakni Ming Guoping dan Ming Zhenzhen, merupakan sasaran utama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara tersebut. Bersama mereka, anggota kunci lainnya seperti Zhou Weichang, Wu Hongming, dan Luao Jianzhang juga menghadapi hukuman serupa.

Meskipun para terpidana sempat mengajukan banding setelah divonis mati pada September 2025, pengadilan tinggi secara resmi menolak permohonan tersebut pada November 2025 dan memerintahkan hukuman tetap dilaksanakan sesuai hukum yang berlaku.

Kasus ini menjadi sorotan internasional sejak otoritas China melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota sindikat pada November 2023 di wilayah perbatasan Myanmar.

Langkah ini diambil sebagai respons atas maraknya fenomena scam parks atau taman penipuan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di wilayah konflik Myanmar, Kamboja, dan Laos.

Jaringan ini diketahui menggunakan kombinasi tenaga kerja hasil perdagangan manusia serta perekrutan sukarela untuk menjaring korban dari berbagai negara melalui penipuan digital.

Eksekusi mati ini mengirimkan pesan kuat dari Beijing mengenai komitmen mereka dalam melindungi warga negaranya dari kejahatan transnasional. Saat ini, tekanan internasional dari negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat terus meningkat terhadap pemerintah di kawasan Asia Tenggara untuk bertindak lebih agresif.

Penuntasan kasus keluarga Ming ini diharapkan dapat meredam laju perkembangan sindikat penipuan digital yang telah merusak stabilitas keamanan siber dan ekonomi di kawasan regional.