JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman virus Nipah menyusul merebaknya kasus tersebut di Benggala Barat, India.
Virus yang menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan peradangan otak akut ini menjadi perhatian serius dunia internasional karena memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Meskipun saat ini kasus pada manusia belum ditemukan di Indonesia, langkah antisipatif mulai diperketat di berbagai pintu masuk internasional guna mencegah masuknya patogen mematikan tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa sistem pertahanan kesehatan di bandara-bandara internasional secara otomatis telah mengaktifkan alat deteksi suhu tinggi. Wamenkes menyatakan bahwa meski jumlah kasus di dunia relatif sedikit dibandingkan Covid-19, komitmen untuk mencegah penularan lintas negara tetap menjadi prioritas.
Indonesia juga memantau langkah-langkah lockdown yang telah dilakukan otoritas India serta penyaringan ketat yang diterapkan Thailand sebagai referensi dalam memperkuat keamanan kesehatan nasional.
Salah satu pintu masuk utama, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, secara spesifik telah menempatkan sejumlah unit thermal scanner di terminal kedatangan internasional maupun domestik.
Pihak PT Angkasa Pura Indonesia bersama Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) telah menyiapkan prosedur evakuasi medis bagi penumpang yang menunjukkan gejala demam tinggi.
Penumpang yang terindikasi sakit akan segera dirujuk ke RSUP Prof. IGNG Ngoerah untuk mendapatkan penanganan isolasi dan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan diagnosa.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Prof. Dominicus Husada mengingatkan bahwa virus ini sudah ditemukan pada kelelawar buah di wilayah Sumatera Utara melalui penelitian tahun 2023.
Hal ini menunjukkan bahwa potensi transmisi dari hewan ke manusia di tanah air tetap ada, meskipun belum ada laporan klinis pada manusia hingga awal 2026 ini.
Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat khusus yang tersedia secara masal untuk virus Nipah, sehingga pencegahan melalui pengawasan mobilitas manusia dan edukasi kesehatan menjadi kunci utama perlindungan masyarakat.














