Inisiatif Mangrove BNI Dorong Pemulihan Ekosistem dan Perekonomian Pesisir Banyuwangi

JurnalPatroliNews – Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat capaian positif dalam pelaksanaan program rehabilitasi mangrove hingga penghujung 2025. Salah satu program unggulannya adalah Regenerasi Hutan Mangrove Teluk Pangpang di Banyuwangi, Jawa Timur, yang difokuskan pada pemulihan lingkungan pesisir sekaligus penguatan ekonomi masyarakat lokal.

Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BNI dalam kerangka keberlanjutan, khususnya pada pilar Inclusion & Resilience. Sasaran utama kegiatan adalah kawasan pesisir yang mengalami degradasi akibat abrasi, alih fungsi lahan menjadi tambak, serta praktik penebangan ilegal yang mengganggu keseimbangan ekosistem.

Dilaksanakan sejak Agustus 2024 hingga Agustus 2027, program tersebut dirancang secara terpadu, mencakup proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan mangrove secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan diarahkan untuk menciptakan dampak nyata dan berkesinambungan.

“BNI berkomitmen menghadirkan program TJSL yang memberi manfaat konkret, baik dalam menjaga kelestarian lingkungan maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat, 30 Januari 2026.

Pelaksanaan regenerasi mangrove di Teluk Pangpang mengadopsi konsep Creating Shared Value (CSV), yakni pendekatan yang menekankan penciptaan nilai bersama antara korporasi, masyarakat, dan lingkungan. Melalui strategi ini, BNI berperan aktif dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.

Program tersebut juga selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 tentang aksi iklim, SDG 14 mengenai ekosistem laut, serta SDG 15 yang berfokus pada ekosistem darat.

Dalam pelaksanaannya, rehabilitasi mangrove melibatkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Baret serta mendorong partisipasi perempuan dan generasi muda pesisir. Keterlibatan warga setempat dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan hasil rehabilitasi sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap kawasan yang dipulihkan.

Dari sisi lingkungan, upaya regenerasi mangrove memberikan berbagai manfaat, seperti menekan laju abrasi pantai, memperbaiki kualitas perairan, serta mengembalikan habitat biota pesisir, termasuk kepiting soka, ikan lemuru, dan burung migran. Selain itu, mangrove berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

BNI juga mengintegrasikan aspek pemberdayaan ekonomi melalui tiga fokus utama, yaitu pengembangan eduwisata mangrove, penguatan unit pembibitan sebagai sumber pendapatan baru, serta perbaikan infrastruktur pendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

Untuk memperkuat kapasitas lokal, berbagai pelatihan dan lokakarya turut digelar, mencakup teknik pembibitan dan perawatan mangrove, konservasi berbasis komunitas, hingga pengelolaan wisata edukatif. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan, mempererat kohesi sosial, serta membuka peluang usaha baru berbasis konservasi.

“Melalui program ini, BNI ingin memastikan bahwa pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang,” pungkas Okki.

Ke depan, BNI menegaskan akan terus memperluas praktik keberlanjutan yang berdampak nyata. Program rehabilitasi mangrove di Banyuwangi menjadi salah satu bukti kontribusi aktif BNI dalam menjaga ketahanan ekosistem pesisir sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.