JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri melakukan kunjungan kerja diplomatik ke Uni Emirat Arab (UEA) yang dijadwalkan berlangsung selama sepekan sejak 1 Februari 2026.
Dalam lawatan ini, Megawati didampingi oleh putranya, Muhammad Prananda Prabowo, serta jajaran elit PDI Perjuangan seperti Ahmad Basarah dan Andi Widjajanto.
Kehadiran Megawati di Abu Dhabi bertujuan untuk menghadiri rangkaian agenda bergengsi Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF), sebuah penghargaan internasional yang terinspirasi dari semangat persaudaraan manusia antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa Megawati memiliki sejarah kedekatan dengan penghargaan ini, di mana pada tahun 2024 ia menjabat sebagai salah satu dewan juri.
Saat itu, Megawati berperan besar dalam meyakinkan dunia internasional hingga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah ditetapkan sebagai pemenang kategori organisasi kemasyarakatan.
.Dalam kunjungan kali ini, Megawati diagendakan menghadiri Annual Ceremony, Gala Dinner, serta berbicara dalam forum internasional mengenai kepemimpinan perempuan bersama tokoh dunia seperti Aseefa Bhutto Zardari dari Pakistan.
Ketibaan Megawati di Bandara Al Bateen disambut hangat oleh Menteri Negara pada Kementerian Luar Negeri UEA, Saeed Bin Mubarak Al Hajeri, dan Duta Besar RI Judha Nugraha.
Dalam pertemuan awal tersebut, suasana akrab terlihat saat Megawati memperkenalkan filosofi panggilan Bung yang melekat pada ayahnya, Bung Karno, sebagai sapaan yang berasal dari hati.
Selain mengikuti forum-forum resmi, Megawati juga dijadwalkan mengunjungi Museum Nasional Zayed di Pulau Saadiyat pada akhir masa kunjungannya.
Salah satu agenda yang paling dinanti adalah pertemuan bilateral antara Megawati dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Syaikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan.
Pertemuan ini dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat hubungan persaudaraan lintas negara dan mendiskusikan berbagai isu kemanusiaan global.
Dialog antara tokoh nasional Indonesia dan pimpinan UEA ini diharapkan dapat mempererat kerja sama di sektor riset, budaya, serta pemahaman keagamaan yang moderat dan inklusif.














