JurnalPatroliNews – Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memaparkan evaluasi data bencana nasional sepanjang tahun 2025 dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dalam laporannya, Suharyanto mengungkapkan bahwa Indonesia masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, yang mencakup banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
Frekuensi kejadian bencana yang mencapai ribuan kali tersebut telah mengakibatkan dampak kemanusiaan yang sangat signifikan di berbagai wilayah tanah air.
Berdasarkan data resmi BNPB, terdapat 2.009 kejadian bencana hidrometeorologi basah sepanjang tahun 2025. Dari total kejadian tersebut, sebanyak 1.353 orang dinyatakan meninggal dunia dan 183 orang lainnya dilaporkan hilang.
Angka fatalitas ini menunjukkan tantangan besar dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan di tingkat daerah. Suharyanto menekankan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah perlu ditingkatkan agar jumlah korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin pada masa mendatang.
Selain masalah banjir, BNPB memberikan catatan khusus terhadap bencana tanah longsor yang sering kali bersifat fatal secara mendadak.
Sepanjang 2025, tanah longsor telah merenggut 237 nyawa dan menyebabkan 31 orang hilang.
Suharyanto mencontohkan tragedi terbaru di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, di mana puluhan orang tertimbun dan meninggal dunia akibat longsoran tanah.
Kejadian-kejadian memilukan ini menjadikan mitigasi struktur tanah dan peringatan dini di area perbukitan sebagai prioritas nasional pada tahun 2026.
Di hadapan para anggota dewan, Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa ke depan, penanganan bencana tidak bisa lagi hanya fokus pada respons darurat pasca-kejadian. Strategi yang lebih komprehensif mulai dari pemetaan zonasi rawan bencana hingga penguatan kapasitas masyarakat di tingkat desa menjadi kunci utama.
Pihak BNPB juga mengharapkan dukungan anggaran dan regulasi dari parlemen guna memperkuat infrastruktur penahan longsor dan sistem sensor pergerakan tanah di titik-titik rawan seluruh Indonesia.














