JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan bahwa dinamika geopolitik global harus menjadi cerminan penting bagi Indonesia dalam membentengi kedaulatan bangsa.
Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Strategis Program Transformasi Transmigrasi Tahun 2026 di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurut AHY, kedaulatan suatu negara sangat ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan posisi strategisnya di tataran global. Kesadaran atas perubahan tatanan dunia kini menjadi sebuah keniscayaan, bukan sekadar retorika politik.
Ia menilai, tantangan global tidak lagi sebatas persaingan militer, tetapi telah mencakup dimensi ekonomi, energi, hingga perebutan pengaruh di panggung internasional.
Sebagai ilustrasi, AHY menyoroti rentetan peristiwa dramatis di Venezuela pada awal tahun ini, saat negara Amerika Selatan tersebut menjadi sorotan dunia setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer besar yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari 2026. Operasi tersebut, yang melibatkan lebih dari 150 pesawat dan pasukan militer AS, memicu reaksi keras dari berbagai negara dan dipandang oleh sejumlah analis sebagai salah satu episode paling agresif dalam sejarah hubungan internasional modern.
“Peristiwa yang terjadi di sana benar-benar di luar batas nalar dan konvensi hukum internasional saat ini,” ucap AHY, mengkritik dinamika yang menurutnya melampaui logika hubungan bilateral tradisional.
Tak hanya itu, ia juga mengambil contoh Greenland—wilayah yang menjadi incaran kekuatan besar karena kandungan sumber daya mineral dan letaknya yang strategis di kawasan Arktik—untuk menunjukkan bagaimana geopolitik modern berkaitan erat dengan penguasaan sumber daya dan posisi strategis.
Selain itu, AHY turut menyinggung konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, terutama dengan peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Menurutnya, eskalasi itu memperlihatkan kompleksitas hubungan antarnegara yang semakin rumit di era kini.
“Amerika Serikat sudah menempatkan kapal perang dan unsur militernya, bersiap menghadapi skenario apapun,” katanya — menyoroti ketegangan yang sempat kembali meningkat di kawasan tersebut.
Melalui beragam contoh di atas, AHY menegaskan bahwa Indonesia perlu mengokohkan fondasi ekonomi, teknologi, dan ketahanan nasional secara berimbang. Ia menilai, Indonesia harus mampu menghindari jebakan geopolitik yang kerap menimpa negara-negara dengan ketergantungan ekonomi tinggi atau posisi strategis yang rentan diperebutkan kekuatan besar.
“Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga kedaulatannya dari tekanan luar, bukan sekadar menjadi objek dalam peta konflik global,” pungkas AHY.














