Trump Isyaratkan Pergantian Rezim Iran di Tengah Meningkatnya Ketegangan Timur Tengah

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengisyaratkan bahwa pergantian rezim di Iran dapat menjadi solusi terbaik di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan saat Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di wilayah tersebut, meskipun jalur diplomasi dengan Teheran masih berlangsung.

Ketika ditanya apakah ia menginginkan perubahan kepemimpinan di Iran, Trump menyatakan bahwa skenario tersebut “tampaknya akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi”. Namun, ia tidak merinci sosok atau mekanisme yang diharapkan untuk menggantikan pemerintahan Iran saat ini.

Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap proses diplomasi yang menurutnya telah berlangsung terlalu lama tanpa hasil konkret.

“Selama 47 tahun, mereka terus berbicara dan berbicara. Sementara itu, kita telah kehilangan banyak nyawa—kaki putus, lengan putus, wajah hancur. Kita telah berjuang terlalu lama,” ujar Trump usai menghadiri acara militer di Fort Bragg, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (15/2/2026).

Pernyataan keras tersebut muncul seiring langkah Pentagon yang mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah untuk memperkuat postur militer AS. Trump menegaskan pengerahan itu bersifat antisipatif apabila upaya diplomasi tidak membuahkan hasil.

“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Dan jika dibutuhkan, kita akan menyiapkannya,” kata Trump.

Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa kapal induk tambahan tersebut membutuhkan waktu setidaknya satu pekan untuk tiba di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, sumber Reuters menyebutkan bahwa utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar perundingan dengan Iran di Geneva pada Selasa (17/2/2026), dengan Oman bertindak sebagai mediator.

Pada hari yang sama, kedua utusan tersebut juga disebut akan bertemu dengan perwakilan Rusia dan Ukraina dalam rangka mendorong upaya Amerika Serikat mengakhiri perang di Ukraina.

Pemerintah Washington menginginkan agar perundingan nuklir dengan Iran tidak hanya membahas pembatasan program nuklir, tetapi juga mencakup isu rudal balistik, dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta perlakuan pemerintah terhadap rakyat Iran.

Namun, Teheran menegaskan hanya bersedia membahas pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi, dan menolak mengaitkannya dengan isu rudal maupun kebijakan regional lainnya.

Di tengah dinamika tersebut, Trump kembali mengisyaratkan opsi militer jika kesepakatan gagal dicapai. Iran pun menegaskan akan melakukan pembalasan jika diserang, memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.