Defisit Perdagangan AS Tembus Rekor, Efektivitas Tarif Trump Dipertanyakan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Defisit perdagangan Amerika Serikat kembali melebar tajam pada akhir 2025, memicu pertanyaan baru terhadap efektivitas kebijakan tarif yang selama ini digencarkan Presiden Donald Trump.

Data terbaru dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat yang dirilis Kamis (19/2/2026) menunjukkan defisit perdagangan melonjak 32,6 persen pada Desember menjadi 70,3 miliar dolar AS. Angka ini merupakan level tertinggi dalam lima bulan terakhir dan jauh melampaui proyeksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan sekitar 55,5 miliar dolar AS.

Lonjakan defisit terutama didorong oleh peningkatan impor sebesar 3,6 persen menjadi 357,6 miliar dolar AS. Kenaikan paling signifikan berasal dari barang modal, khususnya aksesori komputer dan perangkat telekomunikasi, seiring masifnya pembangunan pusat data untuk menopang pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Ekonom Citigroup, Veronica Clark, menilai lonjakan impor komputer mencerminkan peningkatan investasi bisnis. Menurutnya, tren ini berpotensi bertahan kuat karena permintaan yang berkaitan dengan AI terus tumbuh.

Di sisi lain, impor barang konsumsi justru mengalami penurunan, terutama pada produk farmasi.

Sementara itu, kinerja ekspor AS pada Desember melemah. Nilai ekspor tercatat turun 1,7 persen menjadi 287,3 miliar dolar AS, meski pengiriman semikonduktor dan beberapa barang konsumsi masih menunjukkan kenaikan. Sepanjang 2025, ekspor AS sebenarnya tumbuh 6 persen, namun impor meningkat lebih cepat, yakni hampir 5 persen.

Secara tahunan, defisit perdagangan barang AS sepanjang 2025 naik 2 persen menjadi 1,24 triliun dolar AS—menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Menariknya, defisit perdagangan AS dengan China justru menyusut hampir 32 persen menjadi 202 miliar dolar AS. Namun, penurunan ini diikuti pergeseran arus perdagangan ke negara lain. Defisit dengan Taiwan melonjak dua kali lipat menjadi 147 miliar dolar AS, sementara dengan Vietnam meningkat 44 persen menjadi 178 miliar dolar AS.

Pemerintahan Trump sebelumnya mengandalkan kebijakan tarif impor untuk menekan ketimpangan perdagangan dan melindungi industri domestik. Namun, dampaknya dinilai belum signifikan. Dalam setahun terakhir, lapangan kerja sektor manufaktur AS justru tercatat menyusut sekitar 83.000 posisi.

Meski pelebaran defisit kerap dipandang negatif, kuatnya impor juga mencerminkan tingginya aktivitas investasi dan ekspansi bisnis, terutama di sektor teknologi dan AI. Kendati demikian, secara keseluruhan sektor perdagangan diperkirakan hanya memberi kontribusi minimal—bahkan berpotensi nol—terhadap pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV 2025.