Pesan Haru Ayah Bocah Sukabumi yang Tewas: ‘Jangan Biarkan Anak Diasuh Tanpa Pengawasan Kita’

JurnalPatroliNews – Jakarta – Polisi tengah mendalami kasus kematian tragis seorang anak laki-laki berinisial NS (12) asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.

Kematian bocah yang sempat viral melalui video memilukan di media sosial ini memicu dugaan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mengingat kondisi fisiknya yang penuh luka sebelum mengembuskan napas terakhir pada Kamis (19/2/2026).

Dalam video yang beredar, NS tampak terbaring lemah dengan napas tersengal di RSUD Jampangkulon.

Wajahnya dipenuhi luka lecet di area mata dan hidung. Bahkan, muncul narasi memilukan saat korban tampak mengangguk lemah ketika ditanya apakah pernah dipaksa meminum air panas.

Temuan Forensik: Luka Bakar dan Organ Bengkak Proses autopsi yang dilakukan di RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi pada Jumat (20/2) mengungkap fakta mengejutkan.

Kepala RS Bhayangkara, Kombes Carles Siagian, mengonfirmasi adanya luka bakar di beberapa bagian tubuh korban.

“Ditemukan luka bakar di lengan, kaki kanan-kiri, punggung, bibir, serta hidung. Namun secara medis, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian mendadak,” jelas dokter Carles.

Selain luka luar, tim medis menemukan adanya pembengkakan pada organ dalam seperti jantung dan paru-paru. Meski demikian, tim forensik memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan benda tumpul.

Hingga kini, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil uji laboratorium dari Jakarta guna mendeteksi keberadaan zat tertentu atau potensi penyakit penyerta.

Langkah Ayah Mencari Keadilan Anwar Satibi, ayah kandung NS, mengaku sempat bimbang sebelum akhirnya mengizinkan proses autopsi.

Sebagai orang tua, ia ingin memastikan penyebab kematian putranya secara ilmiah agar tidak menjadi fitnah yang menyasar pihak mana pun.

Selama ini, NS tinggal bersama ibu sambungnya di Jampangkulon karena tuntutan pekerjaan Anwar yang sering berada di luar rumah. Dengan nada lirih, Anwar memberikan pesan emosional kepada para orang tua agar selalu mengawasi anak secara langsung.

“Pesan saya, usahakan pertahankan rumah tangga demi anak. Jangan sampai anak diasuh orang lain atau ibu tiri tanpa pengawasan kita sendiri,” ungkapnya di tengah suasana duka.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa menyimpulkan dugaan penganiayaan atau KDRT sebelum hasil laboratorium keluar secara komprehensif. Penyelidikan masih terus berjalan dengan memeriksa saksi-saksi dan bukti-bukti lapangan lainnya.