Tewasnya El Mencho Disebut Bagian Operasi Senyap Trump Berantas Kartel

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kematian pimpinan Kartel Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes, dalam operasi militer di Meksiko disebut menjadi babak baru dalam perang melawan jaringan narkoba internasional.

Bos kartel tersebut dilaporkan tewas pada Minggu, 22 Februari 2026, saat aparat keamanan melancarkan penggerebekan. Operasi itu memicu gelombang kerusuhan dan aksi kekerasan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan wisata Puerto Vallarta.

Di tengah peristiwa tersebut, muncul informasi bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara diam-diam menekan pemerintah Meksiko untuk mempercepat ekstradisi puluhan tokoh kartel ke AS. Langkah ini dilakukan setelah Washington menetapkan sejumlah kartel sebagai organisasi teroris asing.

Sejak Februari tahun lalu, tercatat 92 tersangka pemimpin dan anggota kartel telah dipindahkan ke AS dalam tiga gelombang. Salah satu yang diekstradisi adalah Antonio Oseguera Cervantes, saudara kandung El Mencho.

Pihak Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyebut sebagian besar buronan tersebut sebenarnya sudah lama diminta untuk diekstradisi, namun prosesnya tertunda pada pemerintahan sebelumnya.

Jaksa Agung AS Pam Bondi menegaskan komitmen pemerintah untuk menghancurkan jaringan kartel. Ia mengutip pernyataan Presiden Trump yang menyebut kartel sebagai kelompok teroris.

“Departemen Kehakiman berkomitmen membongkar kartel dan geng lintas negara,” ujarnya seperti dikutip dari New York Post, Selasa (24/2/2026).

Bondi menambahkan, para tersangka akan dituntut dengan hukuman maksimal sebagai bentuk penghormatan kepada aparat yang gugur dalam perang melawan kartel.

Selain jaringan CJNG, otoritas juga mengekstradisi tokoh penting Kartel Sinaloa, Pedro Inzunza Noriega, beserta putranya. Keduanya didakwa mengoperasikan salah satu jaringan produksi fentanyl terbesar di dunia dan menyelundupkan puluhan ribu kilogram narkotika ke Amerika Serikat.

Seluruh terdakwa dijadwalkan menjalani proses hukum di 13 negara bagian AS serta District of Columbia. Banyak di antara mereka menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup, menegaskan bahwa perburuan terhadap kartel kini berlangsung lintas batas negara.