JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri secara resmi menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Beijing mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk segera melakukan gencatan senjata guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri China menyerukan agar semua pihak menahan diri dan kembali ke meja negosiasi.
China menekankan bahwa kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah Iran merupakan prinsip dasar yang harus dihormati oleh komunitas internasional sesuai dengan norma hubungan antarnegara.
Kecaman lebih tajam datang dari media pemerintah China, kantor berita Xinhua. Dalam laporannya, Xinhua menyebut operasi militer tersebut sebagai bentuk agresi terang-terangan terhadap negara berdaulat serta manifestasi dari politik kekuatan dan hegemoni.
Penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat dinilai sebagai pelanggaran mencolok terhadap tujuan dan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menanggapi situasi keamanan yang kian dinamis, Kedutaan Besar China di Israel telah mengeluarkan instruksi evakuasi bagi seluruh warga negaranya. Warga negara China diimbau untuk segera pindah ke wilayah yang lebih aman atau meninggalkan Israel menuju Mesir melalui perlintasan perbatasan Taba.
Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi serangan balasan yang dapat memperburuk kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Dampak konflik ini juga mulai meluas ke sektor transportasi global. Operator maskapai yang berbasis di Hong Kong, Cathay Group, mengumumkan penangguhan operasional di wilayah Timur Tengah.
Kebijakan ini mencakup penghentian sementara penerbangan penumpang dari dan menuju Dubai serta Riyadh, termasuk layanan kargo melalui Bandara Internasional Al Maktoum.
Pihak maskapai juga melakukan pengalihan rute (re-routing) untuk seluruh penerbangan yang biasanya melintasi ruang udara wilayah terdampak.
Serangan gabungan yang menargetkan infrastruktur militer Iran tersebut telah dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Beijing memandang perkembangan ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas geopolitik global dan terus mendorong solusi diplomatik di tingkat Dewan Keamanan PBB.










