JurnalPatroliNews – TEL AVIV — Oposisi Israel menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja memperpanjang konflik di kawasan Timur Tengah demi mempertahankan kekuasaan politiknya di dalam negeri.
Tuduhan tersebut disampaikan Ketua Partai Demokrat Israel Yair Golan saat meninjau dampak serangan di Kota Arad, Sabtu waktu setempat.
Golan menilai, alih-alih mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi atau meraih kemenangan yang tegas, Netanyahu justru mempertahankan situasi perang untuk kepentingan politik domestik.
“Netanyahu telah menjadikan keamanan nasional sebagai alat untuk kelangsungan politiknya,” ujar Golan, dikutip dari The Times of Israel, Senin (23/3/2026).
Menurut mantan jenderal tersebut, kondisi siaga perang sengaja dipelihara guna menghindari penyelenggaraan pemilihan umum yang berpotensi mengancam posisi Netanyahu sebagai kepala pemerintahan.
Ia juga menyoroti konflik berkepanjangan yang dinilai tidak diarahkan pada penyelesaian konkret, meskipun peluang stabilisasi melalui diplomasi dinilai terbuka.
“Inilah mengapa kita berada dalam perang tanpa akhir selama dua setengah tahun. Alih-alih memimpin menuju kemenangan yang menentukan dan menggunakan diplomasi untuk menstabilkan situasi, ia malah memperpanjang perang karena berakhirnya perang akan membutuhkan pemilihan umum dan perubahan pemerintahan,” lanjut Golan.
Israel sendiri dijadwalkan menggelar pemilihan umum paling lambat Oktober mendatang. Namun, jadwal tersebut berpotensi dimajukan apabila tekanan politik dalam negeri memicu runtuhnya koalisi pemerintah.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah tokoh oposisi mulai lebih terbuka mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk langkah yang dinilai kontroversial di tengah situasi konflik.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berlangsung hampir tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas. Meski kelompok tersebut diklaim telah dilemahkan, operasi militer Israel justru meluas hingga ke wilayah Lebanon dan Iran.
Konflik dengan Iran sempat memuncak pada 2025 sebelum berujung gencatan senjata. Namun, eskalasi kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir menyusul serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.














