Trump Setujui Serangan ke Iran Usai Bicara dengan Netanyahu, Jadi Titik Balik Kebijakan AS


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Keputusan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan militer ke Iran disebut tidak lepas dari percakapan penting antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pembicaraan tersebut berlangsung kurang dari 48 jam sebelum operasi dimulai dan dinilai menjadi momen krusial yang mengubah arah kebijakan Washington.

Mengutip laporan Reuters, sumber yang mengetahui jalannya diskusi menyebut Netanyahu mendorong Trump untuk memanfaatkan peluang langka dalam menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Pada saat itu, intelijen AS dan Israel disebut mendeteksi adanya pertemuan para pejabat tinggi Iran di satu lokasi di Teheran. Situasi tersebut dinilai membuka celah untuk melakukan serangan langsung terhadap pucuk pimpinan Iran.

Meski jadwal pertemuan sempat berubah, Netanyahu tetap mendorong agar operasi segera dilakukan. Ia bahkan menilai kesempatan tersebut tidak akan datang dua kali, sekaligus mengaitkannya dengan dugaan ancaman terhadap Trump pada 2024.

Sumber yang sama menyebutkan bahwa Trump sebenarnya telah menyetujui rencana operasi militer sebelumnya, namun belum menentukan waktu pelaksanaan. Percakapan dengan Netanyahu kemudian disebut menjadi faktor yang memperkuat keputusan akhir tersebut.

Serangan itu akhirnya diperintahkan pada 27 Februari dalam operasi yang dinamakan “Operation Epic Fury”. Sehari setelahnya, serangan dimulai dan pada malam harinya Trump mengumumkan bahwa Khamenei telah tewas.

Pihak Gedung Putih menyatakan operasi tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran, termasuk program rudal balistik dan potensi pengembangan senjata nuklir. Trump juga menegaskan bahwa keputusan menyerang merupakan inisiatifnya sendiri.

Meski demikian, laporan Reuters menekankan tidak ada bukti bahwa Netanyahu memaksa Trump untuk berperang. Namun, pemimpin Israel itu dinilai berhasil memengaruhi cara pandang Trump dalam melihat peluang dan risiko operasi militer tersebut.

Sejumlah pejabat AS sebelumnya telah mengingatkan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Kekhawatiran tersebut kini mulai terbukti, menyusul serangan balasan dari Iran, meningkatnya korban jiwa, serta lonjakan harga minyak global.

Hingga kini, konflik di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung dan menunjukkan tanda-tanda eskalasi. Situasi geopolitik pun kian tidak menentu, sementara masa depan politik Iran pasca kematian Khamenei masih diliputi ketidakpastian.