JurnalPatroliNews – Jakarta – Tekanan terhadap Indonesia untuk mempercepat transisi energi semakin menguat. Sebagai penyumbang emisi karbon sektor energi terbesar di Asia Tenggara, pemerintah kini mulai serius mempertimbangkan tenaga nuklir sebagai opsi strategis dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan drastis emisi sektor energi dari 317 juta ton COâ‚‚e pada tahun 2000 menjadi 752 juta ton COâ‚‚e pada 2023. Angka ini menempatkan Indonesia jauh di atas negara tetangga seperti Malaysia (296 juta ton) dan Vietnam (334 juta ton), mencerminkan ketergantungan akut nasional terhadap energi fosil.
Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menegaskan bahwa dominasi batu bara yang mencapai 43,9 persen dari total konsumsi energi primer 2024 menjadi penghambat utama. Di sisi lain, kebutuhan listrik per kapita Indonesia yang masih rendah (1.337 kWh) dibanding Singapura (9.750 kWh) menunjukkan ruang pertumbuhan industri yang sangat besar, namun berisiko memperburuk krisis iklim jika tetap mengandalkan fosil.
Dalam rencana kebijakan phase down batu bara pada RUPTL 2025–2034, teknologi nuklir generasi baru mulai mencuri perhatian. Salah satu yang paling menonjol adalah Molten Salt Reactor (MSR) atau reaktor garam cair. Teknologi yang awalnya dikembangkan oleh Oak Ridge National Laboratory AS ini dinilai lebih aman karena beroperasi pada tekanan rendah dan memiliki efisiensi termal tinggi.
PT Thorcon Power Indonesia kini berada di baris terdepan dalam pengembangan desain MSR untuk pasar domestik.
Uniknya, pendiri Thorcon, Jack Devanney, mengusulkan metode manufaktur ala galangan kapal untuk menekan biaya dan waktu konstruksi. Jika nuklir konvensional membutuhkan waktu hingga satu dekade, unit reaktor 500 MW milik Thorcon diklaim dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu tahun konstruksi di galangan kapal.
Dari sisi ekonomis, Thorcon menargetkan harga jual listrik di kisaran USD 0,07 per kWh. Angka ini dinilai sangat kompetitif untuk bersaing langsung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, menjadikannya opsi menarik bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Langkah konkret telah dimulai sejak 2021. Pada tahun 2025, Thorcon berhasil memperoleh persetujuan Evaluasi Tapak dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk lokasi di Pulau Kelasa, Bangka Tengah. Lokasi ini diproyeksikan menjadi tempat pembangunan unit demonstrasi reaktor garam cair pertama sebelum ekspansi komersial dilakukan.
Keterlibatan aktif Indonesia dalam lisensi teknologi ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem nuklir nasional. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk memasukkan kapasitas nuklir hingga 44 GW ke dalam bauran energi nasional pada 2060 mendatang.














