Harga Minyak Berfluktuasi di Kisaran 100 Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Konflik


JurnalPatroliNews –  Jakarta — Harga minyak dunia bergerak fluktuatif di kisaran 100 dolar AS per barel di tengah derasnya arus informasi terkait konflik geopolitik yang memicu ketidakpastian di pasar energi global.

Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak hampir 5 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang masih dilanda konflik. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah muncul kabar adanya upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (25/3/2026), harga minyak Brent yang sebelumnya ditutup di level 104,49 dolar AS per barel terkoreksi dan hanya naik tipis menjadi sekitar 100,07 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan dari 92,35 dolar AS menjadi sekitar 88,41 dolar AS.

Pergerakan harga ini dipengaruhi laporan bahwa Amerika Serikat telah mengajukan proposal 15 poin kepada Iran guna mengakhiri konflik yang berlangsung. Proposal tersebut disebut mencakup kemungkinan gencatan senjata selama satu bulan.

Meski demikian, pasar masih dibayangi informasi yang saling bertentangan. Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan AS, sementara sejumlah analis menilai peluang tercapainya kesepakatan masih belum pasti.

“Pasar melihat risiko bahwa pembicaraan ini bisa gagal dan konflik akan terus berlanjut,” ujar salah satu analis.

Di sisi lain, gangguan pasokan tetap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Konflik di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah menghambat distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, terutama yang melintasi Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global.

Meski Iran disebut membuka akses terbatas bagi kapal tertentu, kondisi di lapangan dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan. Pasokan energi global masih terganggu dan tekanan terhadap pasar tetap tinggi.

Jika situasi ini berlanjut hingga akhir April, harga minyak Brent diperkirakan berpotensi melonjak hingga 150 dolar AS per barel, melampaui rekor tertinggi yang pernah terjadi pada 2008.

Selain itu, serangan terhadap infrastruktur energi di Iran turut memperburuk kondisi dan meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan global.