JurnalPatroliNews – JAKARTA — Harga minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi pemicu utama lonjakan harga.
Mengutip laporan Reuters, Sabtu (28/3/2026), pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent naik 4,22 persen menjadi 112,57 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) melonjak 5,4 persen ke level 99,64 dolar AS per barel.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi global akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, seiring belum meredanya konflik di kawasan tersebut.
Selat Hormuz menjadi sorotan utama karena jalur ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Laporan menyebutkan Iran masih membatasi lalu lintas di wilayah tersebut, sehingga meningkatkan risiko kekurangan pasokan di pasar internasional.
Sejumlah analis menilai, semakin lama gangguan berlangsung, dampaknya terhadap harga energi dan perekonomian global akan semakin besar. Lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi, karena biaya transportasi dan produksi ikut meningkat, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
Dampak lanjutan juga mulai terlihat pada penurunan kepercayaan konsumen, terutama di Amerika Serikat. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Donald Trump yang memperpanjang tenggat negosiasi dengan Iran dinilai belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Pelaku pasar menilai diperlukan langkah konkret untuk membuka kembali jalur distribusi energi global.
Kenaikan harga minyak juga memicu pergeseran di pasar keuangan. Investor mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS guna menekan inflasi, sementara aset safe haven seperti emas mengalami penguatan.
Dengan kondisi geopolitik yang masih memanas, volatilitas harga energi diperkirakan akan terus berlanjut dan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam waktu dekat.














