JurnalPatroliNews – JAKARTA — Lonjakan harga bahan baku mulai dirasakan di berbagai sektor industri. Namun, pengamat ekonomi dan pasar modal, Ferry Latuhihin, mengingatkan adanya ancaman yang kerap luput dari perhatian publik, yakni kenaikan harga plastik yang dinilai bisa berdampak lebih luas dibandingkan bahan bakar minyak (BBM).
Dalam perbincangan bersama Awalil Rizky, Ferry mengungkapkan bahwa harga bahan baku plastik di sejumlah sektor bahkan telah melonjak lebih dari 100 persen. Ia menilai kondisi ini sebagai imbas langsung dari kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.
Menurutnya, plastik tidak bisa dipisahkan dari sektor energi karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari minyak bumi dan gas alam. Ketika harga energi melonjak, biaya produksi plastik otomatis ikut terdongkrak.
Data menunjukkan harga minyak global telah naik lebih dari 40 persen sejak konflik memanas. Kenaikan tersebut turut mendorong harga plastik di pasar domestik hingga mendekati dua kali lipat di sejumlah wilayah.
Selain itu, gangguan distribusi global juga memperparah kondisi, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Ferry menilai perhatian publik selama ini terlalu terfokus pada kenaikan BBM, padahal dampak yang lebih besar justru merambat melalui sektor industri non-subsidi.
“BBM mungkin masih bisa ditahan melalui subsidi, tetapi sektor industri tidak. Kenaikan harga plastik pasti akan diteruskan ke harga barang,” ujarnya.
Plastik sendiri merupakan komponen penting dalam rantai produksi, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, hingga kebutuhan logistik. Dengan demikian, kenaikan harga plastik berpotensi memicu kenaikan harga berbagai produk konsumsi sehari-hari.
Sejumlah analis juga memperingatkan bahwa lonjakan biaya plastik dapat berdampak pada harga pangan dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini karena kemasan dan distribusi produk makanan sangat bergantung pada material tersebut.
Dampak paling terasa saat ini dialami pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Kenaikan harga plastik yang mencapai 30 hingga 50 persen di tingkat pasar mulai menekan margin keuntungan mereka.
Banyak pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit, antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan—keduanya berisiko di tengah daya beli masyarakat yang sedang melemah.
Ferry menilai lonjakan harga plastik merupakan sinyal awal dari potensi gelombang inflasi yang lebih besar. Jika kenaikan biaya produksi terus berlanjut dan diteruskan ke konsumen, tekanan inflasi dinilai sulit dihindari, bahkan berpotensi menembus dua digit.
Ia menyebut fenomena ini sebagai “early warning system”, yakni indikator bahwa tekanan ekonomi telah merembet dari sektor energi ke seluruh lini perekonomian.
Pemerintah sendiri mengakui kenaikan harga plastik di Indonesia dipengaruhi oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang mengganggu pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah.
Namun demikian, Ferry mengingatkan bahwa persoalan ini juga dipengaruhi faktor struktural, termasuk ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
“Ketika harga minyak naik, dampaknya langsung terasa ke bahan baku seperti plastik. Ini bukan sekadar isu industri, tetapi cerminan tekanan ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika kenaikan harga minyak dapat diibaratkan sebagai “virus”, maka lonjakan harga bahan baku seperti plastik merupakan gejala yang menandakan dampaknya telah menyebar ke seluruh sistem ekonomi.













