JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara resmi mengakui adanya keterlibatan unsur pemerintah dalam insiden pengiriman pesawat tanpa awak (drone) ke wilayah Korea Utara.
Dalam pernyataan yang menandai pergeseran sikap signifikan Seoul, Lee menyampaikan penyesalan mendalam kepada pihak Pyongyang guna meredakan ketegangan militer di Semenanjung Korea, Senin (6/4).
Dalam rapat kabinet yang digelar di Seoul, Presiden Lee mengungkapkan hasil investigasi internal yang mengonfirmasi bahwa aksi tersebut bukan dilakukan oleh warga sipil sebagaimana klaim awal pemerintah pada Januari lalu.
“Telah dikonfirmasi bahwa seorang pejabat Badan Intelijen Nasional (BIN) dan seorang tentara aktif terlibat dalam insiden tersebut. Ini adalah tindakan tidak bertanggung jawab dan ceroboh dari sejumlah individu,” ujar Lee sebagaimana dilansir dari AFP.
Upaya Memperbaiki Hubungan Bilateral Langkah permintaan maaf secara terbuka ini merupakan bagian dari visi diplomatik Lee Jae-myung sejak menjabat tahun lalu untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dengan Korea Utara.
Ia mengkritik keras kebijakan provokatif yang dinilai hanya memicu ketegangan yang tidak perlu antar-saudara serumpun.
“Kami menyampaikan penyesalan kepada pihak Utara atas ketegangan militer yang timbul akibat tindakan ceroboh ini,” tambahnya.
Bukti dari Pyongyang Sebelumnya, Korea Utara mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone yang membawa peralatan pengawasan canggih di wilayah kedaulatan mereka. Pihak Pyongyang bahkan merilis foto-foto puing drone yang dilengkapi kamera dan perangkat pemantauan sebagai bukti otentik infiltrasi tersebut.
Korea Utara sempat mengeluarkan peringatan keras mengenai “respons mengerikan” jika provokasi serupa kembali terulang.
Dengan pengakuan resmi dari Seoul ini, banyak pihak berharap jalur dialog antara kedua negara dapat kembali terbuka, sekaligus menjadi evaluasi besar bagi prosedur operasional intelijen dan militer Korea Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Lee.
Situasi di Semenanjung Korea kini menunggu respons balasan dari pihak Pyongyang atas permohonan maaf resmi ini, yang dipandang sebagai langkah berani untuk menjaga stabilitas kawasan dari ancaman konflik terbuka.














