JurnalPatroliNews – Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan bahwa operasi pengendalian populasi ikan sapu-sapu akan diperluas ke seluruh wilayah ibu kota.
Langkah ini diambil setelah evaluasi terhadap operasi sebelumnya di Jakarta Pusat menunjukkan bahwa populasi ikan invasif tersebut masih ditemukan di sejumlah titik strategis, termasuk di kawasan Bundaran HI.
Pramono menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukan sekadar masalah estetika perairan, melainkan ancaman nyata bagi infrastruktur dan keanekaragaman hayati lokal.
Ikan ini diketahui merusak tanggul lingkungan melalui aktivitas pembuatan lubang serta menjadi kompetitor sekaligus predator bagi ikan-ikan lokal seperti wader.
“Ikan sapu-sapu ini merusak tanggul lingkungan dan menjadi predator karena menghabiskan sumber makanan bagi ikan lain. Jika tidak segera dilakukan pengurangan jumlah, ini akan sangat berpengaruh pada populasi ikan lokal kita,” ujar Pramono saat memberikan keterangan di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4).
Karakteristik Invasif Menurut Pakar Ahli Ikan dan Konservasi Ikan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) adalah spesies asing introduksi yang memiliki kemampuan reproduksi sangat cepat. Di dunia biologi, ikan ini kerap dijuluki sebagai mesin pembiak (breeding machine).
“Satu ekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur. Mereka memiliki sifat parental care, di mana pejantan menjaga telur di dalam liang hingga menetas dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai lebih dari 90 persen,” jelas Charles.
Lebih lanjut, Charles menyebutkan bahwa di perairan Jakarta, seperti Sungai Ciliwung, ikan ini tidak memiliki predator alami yang efektif sebagaimana di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Ketidakhadiran pemangsa spesifik inilah yang membuat populasinya meledak secara tidak terkendali di ekosistem Jakarta.
Risiko Kesehatan dan Logam Berat Selain merusak ekosistem, ikan sapu-sapu di perairan Jakarta membawa risiko kesehatan yang serius bagi manusia.
Charles memperingatkan bahwa ikan ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi di lingkungan yang tercemar logam berat. Alih-alih mati, ikan ini justru menyerap racun seperti timbal ke dalam jaringan dagingnya.
Akumulasi logam berat tersebut dapat menimbulkan bahaya laten bagi siapa saja yang mengonsumsinya. Risiko kesehatan yang mengintai meliputi kerusakan neurologis (saraf), disfungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker. Kelompok yang paling rentan terhadap paparan ini adalah anak-anak dan ibu hamil.
Melalui perluasan operasi penangkapan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dapat memulihkan keseimbangan ekosistem sungai sekaligus memutus rantai potensi bahaya kesehatan masyarakat yang bersumber dari konsumsi ikan invasif yang tercemar.














