JurnalPatroliNews – JAKARTA – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) meluncurkan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) sebagai langkah strategis memperkuat pembangunan di kawasan transmigrasi prioritas melalui kehadiran langsung para sarjana di lapangan.
Program ini menjadi bagian dari transformasi transmigrasi yang diarahkan untuk menjawab ketimpangan pembangunan di berbagai wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh seluruh pelosok negeri, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan dari ruang kelas dan ruang ekspresi. Di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Bangsa ini membutuhkan kehadiran,” ujar Menteri Iftitah dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Pada 2026, sebanyak 1.458 peserta Tim Ekspedisi Patriot akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Mereka akan menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari riset, kajian, hingga pendampingan masyarakat secara langsung.
Program ini melanjutkan pelaksanaan TEP tahun 2025 yang dinilai berhasil memperkuat kehadiran negara di wilayah transmigrasi. Masa pengabdian dibagi menjadi dua kategori, yakni empat bulan untuk wilayah non-Papua dan satu tahun penuh bagi peserta yang bertugas di Papua.
Peserta yang merupakan lulusan D4 dan S1 akan terlibat langsung dalam berbagai sektor, seperti mendampingi petani dan nelayan, membantu proses belajar di sekolah, mendukung layanan kesehatan, hingga memperkuat pembangunan infrastruktur dasar dan ekonomi lokal.
Menurut Iftitah, Transmigrasi Patriot bukan sekadar program penempatan tenaga kerja, melainkan panggilan pengabdian bagi generasi muda untuk hadir bersama masyarakat.
“Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja, dan membangun ekonomi masyarakat. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan pembangunan,” tegasnya.
Program ini juga melibatkan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Namun demikian, Kementrans memastikan program ini juga terbuka bagi lulusan dari kampus lain di seluruh Indonesia, termasuk perguruan tinggi swasta.
“Jika bukan sarjana dari 10 universitas tadi, masih dimungkinkan untuk mendaftar. Ada kolom kesebelasnya, itu adalah kolom perguruan tinggi lainnya, kampus swasta, kampus di manapun di seluruh Indonesia, boleh berpartisipasi dalam program ini,” jelasnya.
Seluruh pendaftar akan mengikuti tahapan seleksi yang hasilnya dijadwalkan diumumkan pada Juni 2026. Setelah itu, peserta akan menjalani pembekalan pada Juli sebelum diberangkatkan ke lokasi penugasan masing-masing.
Menteri Iftitah menegaskan, pengabdian dalam Transmigrasi Patriot bukan soal kehebatan individu, melainkan tentang komitmen untuk tetap hadir dan bekerja nyata bagi bangsa.
“Indonesia tidak menunggu kita sempurna. Indonesia menunggu kita peduli. Indonesia menunggu kita hadir. Indonesia menunggu kita berbuat. Indonesia memanggil,” pungkasnya.














