JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan semakin frustrasi karena tekanan ekonomi Washington terhadap Kuba belum berhasil menggoyang pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut.
Meski embargo ekonomi, pembatasan energi, dan sanksi terhadap jaringan bisnis Kuba terus diperketat, pemerintahan di Havana tetap bertahan. Kondisi itu disebut memicu kekecewaan mendalam di Gedung Putih.
Laporan eksklusif NBC News menyebut Trump secara aktif menekan para penasihatnya dan mempertanyakan efektivitas strategi tekanan maksimum yang selama ini diterapkan terhadap Kuba.
Presiden AS itu disebut tidak puas karena kampanye sanksi, termasuk pembatasan pasokan energi dan embargo minyak, belum mampu memicu perubahan rezim sebagaimana yang diharapkan Washington.
“Trump telah menekan para penasihatnya dan mempertanyakan mengapa sanksi dan kampanye tekanan yang dilancarkan oleh pemerintahannya gagal memicu runtuhnya pemerintahan Kuba,” demikian laporan NBC News yang dikutip pada Selasa (12/5/2026).
Di tengah kebuntuan tersebut, Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan mulai memperbarui rencana kontinjensi untuk kemungkinan aksi militer terhadap Kuba apabila diperintahkan langsung oleh Trump.
Meski demikian, sejumlah pejabat pemerintahan masih meyakini bahwa Havana dapat runtuh dengan sendirinya sebelum akhir tahun tanpa perlu invasi terbuka.
Ketegangan semakin meningkat setelah CNN melaporkan lonjakan penerbangan intelijen militer AS di sekitar wilayah Kuba dalam beberapa pekan terakhir.
Pesawat pengintai dan drone yang terlacak publik disebut beroperasi di dekat Havana serta Santiago de Cuba, menandakan Washington tengah memperketat pemantauan terhadap aktivitas militer dan infrastruktur strategis Kuba.
Pakar keamanan nasional dari FIU Gordon Institute for Public Policy, Randy Pestana, menilai penerbangan tersebut kemungkinan digunakan untuk memantau pergerakan pejabat militer Kuba, kendaraan strategis, hingga fasilitas sensitif yang diduga terkait kepentingan China.
Menurutnya, operasi itu juga berfungsi sebagai instrumen tekanan psikologis guna memperbesar tekanan terhadap pemerintah Kuba yang hingga kini menolak tunduk pada tuntutan Washington.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim Washington telah menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar 6 juta dolar AS dan menawarkan tambahan 100 juta dolar AS yang disebut belum disalurkan oleh otoritas Kuba.
Namun, Havana merespons keras. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla menuding Amerika Serikat telah menciptakan perang ekonomi yang menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi rakyat Kuba.
Pekan lalu, Washington kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan asing yang berbisnis dengan Kuba serta GAESA, konglomerat militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Langkah itu menunjukkan bahwa konfrontasi antara Washington dan Havana masih jauh dari mereda, dengan tekanan ekonomi dan geopolitik terus meningkat di kawasan Karibia.














