JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Gubernur Federal Reserve (The Fed), Stephen Miran, resmi mengajukan pengunduran diri pada Kamis (14/5/2026) waktu Amerika Serikat, di tengah perdebatan intens mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Dalam surat pengunduran dirinya, Miran menyatakan akan meninggalkan kursinya di dewan The Fed ketika atau sesaat sebelum Kevin Warsh resmi menjabat sebagai ketua baru bank sentral tersebut.
“Ke depannya, saya antusias dengan perubahan yang mungkin dilakukan Ketua terpilih Kevin Warsh, terutama dalam kebijakan komunikasi, kebijakan neraca keuangan, dan menjaga agar Federal Reserve tetap fokus pada mandat utamanya serta tidak terlibat dalam isu politik dan budaya yang sensitif,” tulis Miran, dikutip dari CNBC International, Jumat (15/5/2026).
Miran juga menegaskan bahwa kebijakan moneter harus lebih berorientasi ke masa depan. Menurutnya, The Fed perlu memperhitungkan berbagai faktor non-moneter seperti perlambatan pertumbuhan penduduk, penurunan imigrasi, hingga deregulasi yang dinilai dapat membantu menekan inflasi.
Sebelumnya, Miran ditunjuk untuk mengisi sisa masa jabatan Adriana Kugler yang mengundurkan diri pada Agustus 2025.
Selama masa tugasnya yang relatif singkat, ia dikenal sebagai salah satu anggota paling vokal di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), khususnya dalam perdebatan mengenai arah suku bunga acuan.
Dalam enam pertemuan FOMC yang diikutinya, Miran selalu mengambil posisi berbeda dari mayoritas anggota. Pada 2025, ia menolak tiga keputusan pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin. Sementara pada tahun ini, ia kembali berbeda pendapat dengan memilih pemotongan suku bunga ketika mayoritas anggota memutuskan mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Selain mendorong kebijakan suku bunga yang lebih longgar, Miran juga mendukung langkah The Fed dalam mengurangi hambatan regulasi bagi sektor perbankan.
Ia turut memimpin kajian mengenai upaya pengurangan neraca aset The Fed yang saat ini mencapai sekitar 6,7 triliun dolar AS, sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas keuangan jangka panjang.
Pengunduran diri Miran diperkirakan akan semakin menarik perhatian pasar global, mengingat dinamika kebijakan moneter AS masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arus modal, nilai tukar, serta sentimen investor di berbagai negara, termasuk Indonesia.














