JurnalPatroliNews – NEW YORK — Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Jumat (15/5/2026) setelah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dari Timur Tengah, ditambah sinyal penguatan kerja sama energi antara Amerika Serikat dan China.
Dikutip dari CNBC International, Sabtu (16/5/2026), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik lebih dari 3 persen dan ditutup di level 109,26 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melesat lebih dari 4 persen menjadi 105,42 dolar AS per barel.
Kenaikan harga ini dipicu memanasnya kembali tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait kebuntuan konflik dengan Teheran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan Iran “seharusnya membuat kesepakatan.” Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran investor bahwa ketegangan di kawasan penghasil minyak utama dunia itu dapat semakin meningkat dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Selain faktor Iran, pasar minyak juga mendapat sentimen positif dari pernyataan Trump terkait hasil pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping, di Beijing.
Trump menyebut Xi sepakat untuk membeli lebih banyak minyak dari AS, yang dinilai dapat memperketat pasokan di pasar global sekaligus meningkatkan permintaan energi.
Rencana peningkatan impor minyak AS oleh China itu membuat pelaku pasar kembali memburu kontrak minyak, karena dinilai berpotensi mengubah keseimbangan pasokan dan permintaan global dalam jangka pendek.
Lonjakan harga minyak dunia ini diperkirakan dapat memberikan dampak luas terhadap ekonomi global, mulai dari kenaikan biaya energi, tekanan inflasi, hingga meningkatnya volatilitas di pasar keuangan internasional.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, yang berpotensi menghadapi tekanan tambahan terhadap biaya impor bahan bakar dan stabilitas harga domestik.














