JurnalPatroliNews – JAKARTA – Bagi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), urusan mencatat keuangan, menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga memisahkan uang pribadi dan modal usaha kerap menjadi persoalan yang membingungkan.
Padahal, sektor UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Menjawab tantangan tersebut, pendekatan baru berbasis gamifikasi resmi diperkenalkan melalui program “Gang Dagang” yang diluncurkan di Balai Kota DKI Jakarta.
Program ini merupakan kolaborasi antara Netzme dengan Ruangguru, serta mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Indonesia.
Alih-alih menggunakan seminar konvensional, Gang Dagang mengemas edukasi literasi keuangan dan digital dalam bentuk simulasi bisnis interaktif. Para pelaku usaha diajak belajar layaknya bermain game, namun dengan strategi yang dapat langsung diterapkan dalam bisnis nyata mereka.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, mengatakan langkah tersebut sejalan dengan visi Pemprov DKI dalam mendorong transformasi digital UMKM.
“Kami menyambut baik program ini, sejalan dengan semangat Jakpreneur dan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong transformasi digital serta meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Sebagai pusat ekonomi dan transformasi digital nasional, DKI Jakarta dinilai menjadi lokasi strategis untuk peluncuran cohort pertama program Gang Dagang,” ujar Suharini, Senin (18/5/2026).
Pada angkatan pertama, sebanyak 50 pelaku UMKM terpilih akan mengikuti program intensif selama lima bulan. Selama proses tersebut, peserta akan mendapatkan enrichment class yang dipandu oleh Ruangguru.
Tak hanya itu, setiap dua minggu para peserta juga akan mengikuti Sales Race, yakni kompetisi nyata untuk meningkatkan transaksi menggunakan ekosistem digital Netzme seperti QRIS Soundbox dan Kasir Digital. Performa peserta akan ditampilkan melalui papan peringkat (leaderboard) guna memacu kompetisi yang sehat.
CEO PT Netzme Kreasi Indonesia, Vicky G. Saputra, menegaskan bahwa infrastruktur digital tidak akan berdampak maksimal tanpa pemahaman yang memadai dari para penggunanya.
“Kami percaya bahwa infrastruktur pembayaran digital saja tidak cukup. UMKM Indonesia membutuhkan literasi yang menyertainya. Gang Dagang adalah bentuk komitmen kami untuk membangun ekosistem yang tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga meningkatkan kapabilitas pelaku usaha agar tidak sekadar bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertumbuh dari transaksi tersebut,” jelas Vicky.
Sementara itu, Ruangguru menyusun kurikulum pembelajaran berbasis riset dan jurnal akademik yang berfokus pada lima pilar utama UMKM, yakni manajemen keuangan dasar, pencatatan keuangan harian, perhitungan keuntungan dan HPP, pengelolaan utang serta dana darurat, hingga akses permodalan dan keuangan digital.
Chief of Corporate Strategy & Financial Officer Ruangguru, Arman Wiratmoko, mengatakan metode belajar sambil bermain dinilai efektif bagi pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan waktu.
“Gamifikasi terbukti meningkatkan engagement dan retensi pengetahuan, terutama bagi pelaku UMKM yang sibuk. Kami berharap game Gang Dagang ini menjadi bekal nyata bagi keseharian bisnis para UMKM dan juga memberikan nilai tambah yang nyata bagi kita semua,” kata Arman.
Program ini juga dapat diakses masyarakat umum secara gratis melalui situs resmi Gang Dagang, sehingga siapa pun dapat mengasah kemampuan literasi keuangan mereka.
Pelaksana Tugas Kepala Divisi Perizinan dan Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran BI Kantor Perwakilan DKI Jakarta, Roes Dina Martha, berharap kolaborasi lintas sektor seperti ini dapat terus berlanjut.
“Ke depan, kami berharap inisiatif semacam ini dapat bersinergi antara pihak swasta, pemerintah, otoritas, terus berlanjut dan dapat berkontribusi dalam mengakselerasi digitalisasi UMKM, penguasaan ekosistem pembayaran, serta penguatan ekonomi daerah yang inklusif dan berdaya saing,” ujarnya.
Sebagai tambahan, pengguna dengan performa terbaik di papan peringkat nasional nantinya berkesempatan memperoleh berbagai insentif menarik, termasuk kesempatan belajar langsung ke negara-negara yang telah mengadopsi sistem QRIS Antarnegara.














