Picu Kemarahan Global, Sekutu Dekat Kecam Menteri Israel yang Pamer Video Aktivis Gaza Bersujud

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang kecaman keras dari dunia internasional kini tengah mengarah tajam ke pihak pemerintah Israel. Situasi diplomatik ini memanas pasca-Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mempublikasikan sebuah rekaman video yang memperlihatkan kondisi sejumlah aktivis kemanusiaan Gaza yang berhasil mereka tangkap pada Rabu (20/5).

Di dalam tayangan video tersebut, para relawan kemanusiaan yang terintersep tampak dalam posisi tangan terikat erat dan dipaksa untuk bersujud di tanah.

Sementara di area sekeliling para tawanan, terlihat berdiri sejumlah aparat keamanan Israel yang mengawal ketat jalannya proses penahanan tersebut.

Dilansir dari laporan AFP, rekaman video kontroversial itu sengaja diunggah oleh Ben Gvir melalui akun media sosial pribadinya dengan menyematkan takarir atau caption bernada satir bertuliskan ‘Selamat datang di Israel’.

Publikasi visual tersebut seketika memantik kemarahan universal dari panggung global. Bahkan, Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling dekat dan pelindung diplomasi Israel, berbalik arah melayangkan kecaman yang sangat mendalam atas perilaku aparat tersebut.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, melemparkan pernyataan menohok dengan menyebut tindakan Ben Gvir telah menodai martabat dirinya sendiri.

Melalui unggahan resmi di akun X pribadinya, Huckabee menyatakan munculnya kemarahan universal dan kecaman untuk setiap pejabat Israel, terutama atas perilaku tercela yang ditunjukkan oleh Ben Gvir.

Menurut penilaiannya, memburu armada flotilla kemanusiaan merupakan sebuah tindakan yang bodoh, namun melalui unggahan video itu Ben Gvir dinilai telah mengkhianati harga diri negaranya sendiri.

Reaksi Keras Uni Eropa dan Langkah Konkret Pemanggilan Dubes Israel Senada dengan ketegangan di pihak Washington, Komisaris Uni Eropa, Hadja Lahbib, juga melayangkan rasa sesal yang mendalam atas bergulirnya peristiwa tidak manusiawi tersebut.

Ia memberikan penekanan bahwa dalam koridor internasional, seharusnya tidak boleh ada satu pun pihak yang dijatuhi hukuman atau diperlakukan buruk atas nama misi kemanusiaan.

Di samping sekadar melempar kecaman lewat narasi tertulis, negara Belgia dan Prancis memilih untuk mengambil langkah diplomatik yang jauh lebih konkret dan tegas.

Otoritas luar negeri kedua negara Eropa tersebut dilaporkan resmi memanggil Duta Besar Israel di masing-masing negara, sebagai bentuk protes keras atas perilaku Ben Gvir yang dinilai sudah melintasi batas dan tidak dapat diterima oleh akal sehat.

Langkah taktis yang sama juga diambil oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Carney secara instruktif memerintahkan jajaran Kementerian Luar Negeri Kanada untuk segera memanggil Duta Besar Israel untuk Kanada guna dimintai klarifikasi. Ia menegaskan bahwa fakta di mana para aktivis kemanusiaan diperlakukan secara sangat buruk merupakan hal yang mutlak tidak dapat ditoleransi.

Sebagai informasi latar, armada militer Israel sebelumnya telah melakukan aksi intersepsi sepihak terhadap pelayaran kapal-kapal pembawa bantuan logistik yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 ini pada Senin (18/5).

Seluruh aktivis dan relawan yang berada di atas dek kapal ditangkapi secara paksa. Di antara ratusan relawan internasional yang ditahan oleh otoritas Israel tersebut, terkonfirmasi terdapat 9 Warga Negara Indonesia (WNI).

Manifes WNI tersebut mencakup 3 jurnalis nasional yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, yakni Andre Prasetyo selaku jurnalis Tempo TV, serta Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang merupakan jurnalis dari media Republika. Pemanggilan dubes oleh negara-negara dunia ini diharapkan mampu menekan Israel agar segera membebaskan para tawanan kemanusiaan.