JurnalPatroliNews – JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali menguat setelah pelaku pasar memahami dampak kebijakan pembentukan badan ekspor komoditas satu pintu yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya merespons pelemahan IHSG yang ditutup turun 3,54 persen ke level 6.094 pada perdagangan Kamis (21/5/2026), sehari setelah pidato Presiden Prabowo di rapat paripurna DPR RI.
Menurut Purbaya, investor saat ini kemungkinan masih mencermati arah implementasi kebijakan ekspor yang diumumkan pemerintah.
“Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya akan naik,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan pembentukan badan ekspor tersebut bertujuan memperbaiki tata kelola perdagangan luar negeri, sekaligus menutup praktik under invoicing yang selama ini dinilai merugikan negara maupun perusahaan.
“Jadi tadi yang biasa jadi uang jadi mainnya oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan. Sekarang bisa harusnya terrefleksi langsung di penjualan mereka yang murni,” katanya.
Purbaya menilai kebijakan tersebut justru berpotensi meningkatkan valuasi perusahaan terbuka karena pendapatan ekspor yang sebelumnya tidak tercatat optimal dapat tercermin lebih transparan dalam laporan keuangan emiten.
“Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang di bursa. Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan,” ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah mengumumkan pembentukan badan ekspor komoditas satu pintu melalui Badan Pengelola Investasi Danantara untuk memperkuat pengawasan ekspor komoditas strategis seperti sawit, batu bara, dan mineral.
Di sisi lain, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai pasar masih khawatir kebijakan tersebut dapat membuka ruang intervensi negara terhadap harga jual komoditas unggulan.
“Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor bahwa akan ada potensi pengendalian harga jual yang dapat berdampak pada penurunan marjin laba perusahaan,” kata Ratna dalam risetnya.












