Enam Polisi Tertembak dan Belasan Warga Terluka, Bentrokan Pecah Saat Aparat Bubarkan Blokade di Bolivia

JurnalPatroliNews – Santa Cruz – Aksi demonstrasi besar-besaran yang menuntut pengunduran diri Presiden Bolivia, Rodrigo Paz Pereira, dilaporkan berakhir dengan bentrokan hebat melawan aparat keamanan.

Insiden berdarah tersebut pecah di wilayah timur negara itu ketika pihak kepolisian berupaya keras membubarkan aksi blokade jalan oleh kelompok pekerja pedesaan pada Sabtu kemarin.

Gelombang protes anti-pemerintah ini diketahui telah melumpuhkan aktivitas domestik Bolivia secara masif selama kurang lebih satu bulan terakhir.

Berdasarkan laporan dari kantor berita AFP, bentrokan sengit itu berlokasi di Kota San Julian, wilayah Santa Cruz, yang merupakan salah satu sentra produksi pangan utama di Bolivia.

Puluhan personel polisi antihuru-hara yang didukung penuh oleh barisan kendaraan militer terpaksa menembakkan gas air mata guna membuka akses jalan yang ditutup paksa oleh massa.

Para pengunjuk rasa kemudian membalas tindakan tersebut secara agresif dengan melempar batu serta membakar ban bekas di tengah jalan untuk menghalangi pergerakan aparat.

Kepala Kepolisian Santa Cruz, Kolonel David Gomez, mengonfirmasi bahwa sebanyak enam orang anggota polisi dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

Empat personel di antaranya bahkan menderita luka serius akibat terkena tembakan senjata api, yang memaksa pasukan keamanan menarik diri dari lokasi kejadian.

Di sisi lain, Kantor Ombudsman Bolivia mencatat sedikitnya ada 14 warga sipil yang turut mengalami luka-luka sebagaimana dilansir dari pemberitaan Reuters.

Meski aparat sempat berhasil membuka sebagian ruas jalan, para demonstran langsung kembali memasang barikade dan blokade tidak lama setelah pasukan mundur.

Kelangkaan Pasokan Logistik dan Upaya Regulasi Darurat

Pihak otoritas melaporkan saat ini terdapat sekitar 100 titik blokade aktif yang tersebar di berbagai wilayah strategis Bolivia hingga mengganggu jalur distribusi logistik.

Akibat lumpuhnya jalur transportasi tersebut, sejumlah kota besar mulai menghadapi krisis kelangkaan pasokan bahan pangan serta obat-obatan yang serius.

Sebelumnya, tim gabungan polisi dan tentara juga telah membubarkan blokade serupa di jalur utama yang menghubungkan ibu kota administratif La Paz dengan kawasan pertanian.

Sebagai informasi, Presiden Rodrigo Paz Pereira yang mulai menjabat sejak November 2025 lalu awalnya berjanji untuk mengatasi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, rentetan kebijakan ekonominya justru dinilai tidak populer serta dianggap gagal total dalam menjawab tuntutan nyata dari lapisan masyarakat bawah.

Meskipun Paz berulang kali menyerukan dialog damai, dirinya tetap mengambil langkah tegas dengan mengumumkan rancangan undang-undang status darurat pada Rabu lalu.

Regulasi baru yang kini tengah digodok oleh Kongres Bolivia tersebut nantinya akan memberikan kewenangan penuh bagi militer untuk membubarkan setiap blokade jalan.

Tudingan Politik Domestik dan Dukungan dari Amerika Serikat

Pemerintah Bolivia secara terbuka menuding mantan presiden Evo Morales sebagai aktor intelektual di balik pecahnya gelombang aksi protes massal ini.

Morales sendiri saat ini dikabarkan sedang bersembunyi dari kejaran hukum terkait dugaan kasus hukum hubungan dengan seorang remaja yang dilaporkan telah melahirkan anaknya.

Di tengah eskalasi krisis yang kian memuncak, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menyatakan dukungan penuhnya kepada pemerintahan Presiden Paz pada Jumat lalu.

Dukungan politik tersebut disalurkan melalui aliansi regional anti-kartel Shield of the Americas yang turut melibatkan sejumlah pemerintahan pro-AS di kawasan Amerika Latin.

Komentar