Gempuran Udara Israel Sasar Kamp Al-Maghazi, Krisis Air Bersih di Jalur Gaza Kian Mencekam

JurnalPatroliNews – Gaza – Wilayah Kamp Pengungsi Al-Maghazi yang terletak di Jalur Gaza bagian tengah, Palestina, dilaporkan dalam kondisi porak-poranda.

Kondisi memprihatinkan tersebut terjadi setelah rentetan serangan udara militer Israel menghantam kawasan padat penduduk tersebut pada Jumat (12/6/2026) dini hari.

Berdasarkan draf rekaman video AFPTV di lokasi kejadian, tampak jelas bangunan-bangunan tempat tinggal runtuh menjadi puing akibat hantaman bom.

Tumpukan beton tebal berserakan di sepanjang jalan, sementara sejumlah warga dengan alat seadanya berusaha keras menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.

Salah seorang warga lokal memberikan kesaksian pilu bahwa sedikitnya ada sekitar 15 bangunan rumah tinggal yang dilaporkan hancur total.

Hingga draf laporan internasional ini diturunkan, memang belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pasti korban jiwa maupun luka-luka dalam serangan udara tersebut.

Namun, draf konfirmasi dari warga setempat menyebutkan bahwa sebagian besar bangunan yang terdampak merupakan kawasan hunian keluarga di area pengungsian.

Krisis Air Bersih yang Kian Mencekam di Tengah Suhu Ekstrem

Selain harus menghadapi kehancuran fisik bangunan akibat draf perang, para pengungsi di Gaza kini juga harus berjuang melawan krisis air bersih.

Kondisi tersebut kian diperparah oleh kedatangan gelombang panas yang melanda seluruh draf wilayah perbatasan dalam beberapa pekan terakhir.

Kerusakan masif pada infrastruktur vital menyebabkan pasokan air bersih dari draf pipa perkotaan terhenti secara total ke rumah-rumah warga.

“Tidak ada pasokan air di rumah, kami tidak bisa memasak dan tidak bisa makan, hidup kami menjadi sangat sulit,” kata Umm Amer Haboush, seorang warga pengungsi dengan nada lirih.

Untuk menyambung hidup, ribuan warga Gaza dilaporkan harus rela mengantre panjang di sekitar truk-truk darurat distribusi bantuan air.

Mereka tampak membawa jeriken bekas serta botol plastik seadanya demi mendapatkan draf jatah air bersih untuk kebutuhan keluarga.

Keterbatasan pasokan air bersih ini menjadi ancaman kesehatan yang serius mengingat suhu udara di Gaza terus melonjak tinggi menyentuh angka 30 hingga 35 derajat Celsius.

Rangkaian perang di Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 ini telah melumpuhkan sebagian besar infrastruktur sipil dan draf fasilitas publik.

Kondisi tersebut secara otomatis terus memperburuk krisis kemanusiaan bagi jutaan warga sipil yang terjebak di dalam wilayah konflik tersebut.

Komentar