JurnalPatroliNews – Jakarta – Pergerakan pasar keuangan domestik kembali berada dalam tekanan setelah mata uang rupiah mencatatkan pelemahan tipis pada penutupan perdagangan harian di pertengahan pekan ini.
Nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi sebesar 16 poin atau setara dengan 0,09 persen untuk mendarat ke level Rp17.725 per dolar Amerika Serikat dibandingkan posisi pada penutupan hari sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas senior, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa penurunan performa rupiah kali ini dipicu oleh eskalasi kecemasan para pelaku pasar global atas dinamika hubungan dagang bilateral.
Kebijakan proteksionisme ekonomi yang tengah dirancang oleh Pemerintah Amerika Serikat terkait rencana pemberlakuan tarif impor tambahan disinyalir menjadi biang keladi melempemnya kurs garuda.
Ibrahim menilai gema perang dagang jilid baru ini berpotensi besar mereduksi kinerja ekspor komoditas manufaktur nasional ke wilayah pasar Amerika Serikat karena penurunan tingkat daya saing produk.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, efek domino dari regulasi tersebut dikhawatirkan merembet pada penurunan utilitas pabrik domestik, melambatnya arus investasi baru, hingga ancaman pengurangan penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan data teknis, regulasi tarif baru tersebut mengacu pada Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS tahun 1974 yang dijadwalkan bakal mulai diimplementasikan secara berkala per tanggal 24 Juli mendatang.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR dilaporkan telah menjatuhkan sanksi tarif kerja paksa sebesar 10 persen kepada Indonesia beserta lima negara produsen lainnya.
Pihak internal otoritas pemerintah memprediksi angka pungutan bagi produk ekspor asal Indonesia bisa melambung hingga menyentuh level 18 persen sesaat setelah investigasi kelebihan kapasitas produksi rampung dilakukan.
Sebagai informasi, saat ini aliran produk ekspor Indonesia ke AS masih terikat pada skema tarif global sebesar 10 persen berdasarkan Pasal 122 regulasi dagang AS yang efektif berjalan sejak awal tahun ini.
Bagi konstelasi ekonomi dalam negeri, Amerika Serikat menempati posisi strategis sebagai negara tujuan ekspor komoditas nonmigas terbesar kedua setelah Republik Rakyat China.
Pada periode semester pertama tahun lalu, akumulasi nilai ekspor nonmigas Indonesia ke pasar domestik AS sukses menyentuh angka 14,79 miliar dolar AS atau merepresentasikan 11,52 persen dari total ekspor nasional.
Kontribusi terbesar dari portofolio pengiriman barang tersebut disumbang oleh sektor industri manufaktur seperti mesin mekanik, peralatan listrik, alas kaki, tekstil pakaian jadi, serta komoditas aksesoris.
Kendati dibayangi sentimen negatif eksternal, untuk sesi perdagangan esok hari rupiah diprediksi bakal bergerak dengan tingkat volatilitas tinggi namun memiliki peluang besar untuk ditutup berbalik menguat.
Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan berfluktuasi secara dinamis dan bergerak merayap pada kisaran batas bawah Rp17.690 hingga batas atas Rp17.728 per dolar AS.
Sebagai bentuk pemenuhan aspek keberimbangan informasi bagi publik, media ini membuka ruang hak jawab maupun klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.















Komentar