JurnalPatroliNews | Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jumat (26/6).
Didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Prabowo memanfaatkan forum yang dihadiri sekitar 2.600 rektor, dekan, guru besar, akademisi, dan peneliti dari seluruh Indonesia itu untuk menyampaikan pandangannya mengenai demokrasi, persatuan elite nasional, hingga pentingnya membangun kemandirian bangsa.
Presiden tiba sekitar pukul 16.00 WIB mengenakan safari berwarna krem bersama Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, serta Menteri Luar Negeri Sugiono. Kehadirannya disambut lagu perjuangan Maju Tak Gentar yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada kemampuan para elitnya membangun kerja sama demi kepentingan nasional. Menurutnya, sejarah dunia menunjukkan negara-negara yang mampu menyatukan para pemimpinnya cenderung lebih cepat berkembang dibanding negara yang terus dilanda perpecahan internal.
Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan berbagai konflik yang saat ini masih terjadi di sejumlah kawasan dunia, mulai dari Gaza, Palestina, Lebanon, Iran, Yaman, Afghanistan, Myanmar, hingga ketegangan di kawasan Asia Tenggara. Menurut Prabowo, banyak peperangan berakar pada kegagalan elite politik membangun konsensus dan kerja sama.
Pada kesempatan itu, Presiden juga mengenang perjalanan politiknya dalam kontestasi pemilihan presiden. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah lima kali meminta mandat kepada rakyat dan empat kali belum memperoleh kepercayaan sebagai pemimpin nasional. Meski demikian, ia menegaskan selalu menghormati hasil demokrasi dan tidak pernah mengganggu pemerintahan yang memperoleh mandat rakyat.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Prabowo menilai sikap menerima hasil pemilu merupakan bagian penting dari komitmen menjaga demokrasi yang telah menjadi kesepakatan bersama bangsa Indonesia.
Menanggapi pidato Presiden, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pernyataan Prabowo tidak dimaksudkan sebagai sindiran kepada pihak mana pun. Menurutnya, Presiden hanya ingin menekankan bahwa proses demokrasi harus dihormati oleh seluruh elemen bangsa sebagai mekanisme konstitusional dalam memilih pemimpin setiap lima tahun.
Prasetyo juga mengungkapkan bahwa dalam dialog bersama kalangan akademisi, Presiden menyoroti pentingnya penguatan riset, inovasi, dan kemandirian industri nasional. Salah satu perhatian yang disampaikan ialah kenyataan bahwa Indonesia, meski telah merdeka selama lebih dari delapan dekade, masih belum memiliki industri otomotif nasional yang benar-benar lahir dari kemampuan sendiri.
Melalui forum ilmiah tersebut, pemerintah berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, dunia riset, industri, dan pemerintah guna mempercepat lahirnya inovasi yang mampu memperkuat daya saing nasional sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia.














Komentar