JurnalPatroliNews | Jakarta – Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (16/7), namun tetap bertahan di kisaran level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Pelaku pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah Brent turun 72 sen atau 0,9 persen menjadi 84,23 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terkoreksi 65 sen atau 0,8 persen ke posisi 78,95 Dolar AS per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak sempat menguat lebih dari satu persen sebelum akhirnya berbalik melemah menjelang penutupan perdagangan.
Meski mengalami koreksi, harga minyak tetap bertahan pada level yang relatif tinggi karena pasar masih mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi minyak dunia akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Laporan pasar menyebutkan Iran dikabarkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap mengambil langkah terhadap jalur pelayaran di Laut Merah apabila Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap infrastruktur kelistrikan Iran. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan ancaman terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar karena jalur pelayaran di Selat Hormuz masih berada dalam situasi yang sensitif. Apabila gangguan juga meluas ke jalur Bab el-Mandeb di Laut Merah, distribusi minyak global berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.
Berdasarkan data Kpler, sekitar 7,4 juta barel minyak per hari melintasi jalur Bab el-Mandeb sepanjang Juni, atau setara dengan sekitar 7 persen produksi minyak dunia, sehingga kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam rantai pasok energi internasional.
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, pasar memperoleh sentimen penyeimbang dari bertambahnya pasokan minyak Irak.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak Irak pada paruh pertama Juli meningkat menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya, setelah pengiriman yang sempat terganggu mulai kembali normal.
Peningkatan ekspor tersebut dinilai membantu mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap potensi kekurangan pasokan global. Meski demikian, analis menilai pergerakan harga minyak dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur pelayaran strategis dan potensi eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran.















Komentar