JurnalPatroliNews | Kuching — Kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai memberi dampak serius ke wilayah Sarawak, Malaysia. Sebanyak 591 sekolah di 10 distrik di negara bagian tersebut ditutup selama dua hari karena kualitas udara memburuk hingga level tidak sehat.
Penutupan mencakup wilayah Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.
Kebijakan tersebut berdampak terhadap sekitar 197.323 pelajar, terdiri dari 107.590 murid sekolah dasar dan 89.733 siswa sekolah menengah. Selama sekolah ditutup, proses belajar mengajar tetap dilakukan dari rumah melalui pembelajaran berbasis rumah atau Home-Based Teaching and Learning (PdPR).
Departemen Pendidikan Sarawak menyatakan penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan siswa serta tenaga pendidik dari paparan udara yang tidak sehat.
“Pembelajaran dan pengajaran berbasis rumah (PdPR) akan diterapkan selama penutupan untuk memastikan pelajaran berlanjut tanpa gangguan,” demikian keterangan Departemen Pendidikan Sarawak.
Memburuknya kualitas udara menjadi perhatian setelah sejumlah wilayah Sarawak mencatat indeks polusi udara (API) pada kategori tidak sehat.
Data yang dilaporkan otoritas Malaysia menunjukkan Serian bahkan sempat menembus kategori “sangat tidak sehat” dengan API 204 pada Kamis (20/8). Pada saat yang sama, Kuching berada di angka 195, Samarahan 182, Sri Aman 179, Sarikei 158 dan Sibu 152.
Dalam klasifikasi API Sarawak, angka 101–200 masuk kategori tidak sehat, sedangkan 201–300 dikategorikan sangat tidak sehat.
Penutupan kali ini menjadi yang kedua dalam dua pekan terakhir. Sebelumnya, sekolah di Serian juga sempat ditutup selama tiga hari ketika kualitas udara di wilayah tersebut memburuk.
Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak (NREB) memperingatkan kondisi kabut asap berpotensi bertahan selama beberapa hari apabila aktivitas pembakaran biomassa di luar Sarawak terus meningkat.
Berdasarkan laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) yang dikutip NREB, sebanyak 7.286 titik panas terdeteksi di Kalimantan sepanjang 1–19 Agustus 2026. Pada periode yang sama, Sarawak mencatat 148 titik panas.
NREB juga menyebut adanya pergerakan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga tebal dari Kalimantan Barat menuju arah utara dan memasuki sebagian wilayah barat Sarawak.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko memburuknya kualitas udara, terutama ketika wilayah yang terdampak mengalami kekeringan berkepanjangan.
Temuan mengenai pergerakan asap lintas batas juga sejalan dengan pemantauan ASMC yang mencatat asap dari kelompok titik panas di Kalimantan Barat bergerak menuju wilayah barat Sarawak.
NREB memperkirakan kondisi dapat semakin memburuk apabila titik api terus berkembang di kawasan yang rawan terbakar.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap tidak mengenal batas administratif. Pergerakan angin dapat membawa asap dari wilayah sumber kebakaran menuju daerah lain, termasuk melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia.
ASMC juga memperingatkan bahwa kondisi kering berkepanjangan dapat meningkatkan aktivitas titik panas dan risiko kabut asap lintas batas di kawasan ASEAN.
Penutupan ratusan sekolah di Sarawak menjadi salah satu dampak langsung dari memburuknya kualitas udara. Pemerintah setempat kini mengandalkan pembelajaran dari rumah agar aktivitas pendidikan tetap berjalan sembari mengurangi paparan siswa dan guru terhadap kabut asap.
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengendalian karhutla di Kalimantan memiliki dampak regional. Ketika kebakaran meluas dan kondisi angin mendukung, asap dapat bergerak melintasi perbatasan dan memengaruhi kesehatan serta aktivitas masyarakat di negara tetangga.














Komentar