Houthi Bergerak ke Bab el-Mandeb, Ekspor Minyak Saudi Terancam

JurnalPatroliNews | Sanaa — Peta konflik di Yaman kembali berubah drastis. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah merebut kota pelabuhan Mocha (Mokha) di pesisir Laut Merah pada Kamis (10/9/2026), lalu memperluas pergerakan ke wilayah kepulauan strategis di sekitar jalur menuju Selat Bab el-Mandeb.

Penguasaan Mocha menjadi perkembangan penting karena kota pelabuhan tersebut berada sekitar 80 kilometer dari Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Penguasaan wilayah itu memperkuat posisi Houthi untuk menekan arus perdagangan dan pelayaran internasional.

Sumber militer pemerintah Yaman menyebut pasukan Houthi kemudian bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju sejumlah titik strategis, termasuk Kepulauan Hanish. Pergerakan tersebut dinilai dapat memberikan kelompok itu posisi yang semakin dekat dengan jalur utama Bab el-Mandeb.

Kondisi itu menjadi perhatian serius karena Bab el-Mandeb merupakan salah satu chokepoint utama perdagangan dunia. Reuters mencatat sekitar 7 persen produksi minyak global selama ini melewati jalur tersebut, sementara rute Laut Merah juga menjadi jalur penting perdagangan dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez.

Ekspor Minyak Saudi Jadi Taruhan

Ancaman tidak berhenti pada urusan pelayaran. Menguatnya posisi Houthi di pesisir Laut Merah juga berpotensi menekan jalur ekspor energi Arab Saudi, negara yang selama ini mengandalkan akses Laut Merah sebagai salah satu rute penting bagi pengiriman minyak.

Risiko tersebut semakin besar karena konflik Iran-Amerika Serikat telah membuat Selat Hormuz mengalami gangguan berat. Sebelum konflik berlangsung, jalur tersebut menjadi salah satu koridor utama lalu lintas energi dunia. Dengan Hormuz terganggu, rute Laut Merah menjadi semakin strategis bagi arus energi dari kawasan Teluk.

Houthi sendiri telah menyatakan bahwa pelayaran di Laut Merah tetap aman bagi perusahaan pelayaran internasional, dengan pengecualian terhadap kapal-kapal Saudi. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tekanan terhadap Riyadh menjadi bagian dari strategi kelompok tersebut.

Harga minyak dunia langsung merespons perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 4 persen dan menembus level 105 dolar AS per barel pada Kamis (10/9), dipicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan jalur pasokan energi.

Pemerintah Yaman Bergerak ke Bab el-Mandeb

Di tengah meluasnya pengaruh Houthi, pasukan pemerintah Yaman dan sekutunya bergerak ke arah selatan menyusuri pantai Laut Merah menuju Dhubab, kawasan yang berhadapan dengan Pulau Perim di pintu masuk Bab el-Mandeb.

Sumber militer pemerintah menilai penguasaan Dhubab dan Pulau Perim memiliki arti strategis karena dapat menentukan siapa yang memiliki pengaruh terhadap lalu lintas di selat tersebut.

Dengan kata lain, perebutan Mocha bukan sekadar kemenangan teritorial lokal. Perkembangan itu menjadi bagian dari pertarungan yang lebih luas untuk menguasai koridor maritim yang menghubungkan kawasan Teluk, Afrika Timur, Laut Merah dan Terusan Suez.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa situasi tersebut menandai fase baru yang lebih berbahaya dalam perang Yaman.

Menurut Grundberg, penguasaan Mocha memberi Houthi akses langsung menuju kawasan salah satu selat paling vital di dunia sekaligus memunculkan kekhawatiran serius terhadap kebebasan navigasi.

Iran dan Houthi Saling Berhadapan dengan Dunia

Amerika Serikat menuding Houthi bertindak sebagai alat Iran dalam konflik regional yang semakin melebar. Perwakilan AS dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Jenifer Neidhart de Ortiz, menyatakan eskalasi tersebut tidak dapat diterima dan pihak yang memfasilitasinya harus bertanggung jawab atas konsekuensinya.

Iran membantah kendali langsung terhadap Houthi. Kementerian Luar Negeri Iran justru menyerukan penyelesaian melalui dialog dan menilai konflik Yaman tidak dapat diselesaikan melalui blokade ataupun operasi militer.

Sementara itu, juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam menyebut operasi kelompoknya bersifat defensif dan akan dihentikan apabila serangan terhadap Yaman berakhir.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan eskalasi justru semakin melebar. Houthi bukan hanya mempertahankan wilayah yang mereka kuasai, tetapi kini bergerak untuk memperkuat posisi di sepanjang pantai Laut Merah.

Ancaman Baru bagi Pasar Energi Dunia

Jika Houthi benar-benar mampu memperoleh kendali yang lebih luas atas Bab el-Mandeb, pasar energi dunia akan menghadapi risiko baru.

Kombinasi gangguan di Selat Hormuz dan ancaman terhadap Bab el-Mandeb akan membuat semakin banyak jalur strategis energi dunia berada dalam tekanan pada waktu yang bersamaan.

Dampaknya tidak hanya berpotensi dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah. Gangguan di jalur tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu tempuh kapal, mengerek premi asuransi serta memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dan komoditas global.

Karena itu, penguasaan Mocha kini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan garis depan perang Yaman. Kota pelabuhan tersebut telah berubah menjadi salah satu titik strategis dalam perebutan kendali atas jalur perdagangan dan energi dunia.

Pertarungan berikutnya diperkirakan akan berpusat pada Dhubab, Pulau Perim dan Bab el-Mandeb. Siapa yang mampu menguasai kawasan itu akan memiliki posisi tawar besar terhadap arus pelayaran internasional—dan secara tidak langsung, terhadap stabilitas pasar minyak global.

Komentar