JurnalPatroliNews | Yerusalem — Ketegangan kembali meningkat di Yerusalem Timur menjelang Yom Kippur, hari paling suci dalam kalender Yahudi. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa bersama sejumlah pemukim Israel, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi kawasan Tembok Barat dan terowongan di bawah Kota Tua Yerusalem.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di tengah situasi politik dan keamanan yang sensitif di Yerusalem Timur.
Arab Saudi kemudian mengecam keras aksi Ben-Gvir dan kelompok pemukim yang memasuki kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan pasukan keamanan Israel. Riyadh menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran dan provokasi terhadap umat Islam.
Ben-Gvir Masuk Kompleks Al-Aqsa
Ben-Gvir kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis (17/9) dalam rangkaian kegiatan menjelang Yom Kippur.
Pada Minggu (20/9), laporan mengenai masuknya pemukim Israel ke kompleks tersebut kembali muncul. Kantor media Pemerintah Kota Yerusalem Palestina menyebut sekitar 100 pemukim memasuki halaman kompleks pada pagi hari dengan pengawalan polisi Israel dan melakukan ritual keagamaan Yahudi.
Laporan Al Jazeera menyebut jumlah yang dilaporkan oleh Pemerintah Kota Yerusalem Palestina mencapai sekitar 570 pemukim hingga pukul 10.00 waktu setempat. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan waktu dan sumber pelaporan yang berbeda.
Rangkaian aksi itu berlangsung menjelang dimulainya Yom Kippur pada Minggu malam dan berlanjut hingga Senin.
Netanyahu Kunjungi Terowongan Tembok Barat
Pada Sabtu (19/9), Netanyahu mengunjungi kawasan terowongan di bawah Kota Tua Yerusalem.
Keesokan harinya, Netanyahu mengunggah foto dan video di akun Instagram resminya yang memperlihatkan dirinya mengikuti doa Selichot di Tembok Barat, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai bagian dari kawasan Tembok Al-Buraq.
Dalam rekaman lain, Netanyahu bersama istrinya, Sara, terlihat berjalan melalui salah satu terowongan di bawah kawasan Tembok Barat ketika doa Yahudi berlangsung.
Dalam video tersebut, Netanyahu mengatakan:
“Kami berada di dalam terowongan di Tembok Al-Buraq. Sungguh mengharukan bisa menyentuh batu yang menjadi fondasi keberadaan kita. Kami berada sangat dekat dengan Ruang Mahakudus. Kami ada di sini, dan kami akan selalu berada di sini.”
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam konteks kunjungannya ke kawasan terowongan dan ritual keagamaan menjelang Yom Kippur.
Beda Lokasi, Sama-sama Sensitif
Kunjungan Netanyahu dan aksi Ben-Gvir perlu dibedakan secara faktual.
Netanyahu dilaporkan berada di kawasan Tembok Barat dan terowongan di bawah Kota Tua, sedangkan Ben-Gvir dan sejumlah pemukim dilaporkan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa.
Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Kota Tua Yerusalem dan memiliki arti keagamaan serta politik yang sangat sensitif bagi masyarakat Yahudi dan Muslim.
Karena itu, setiap perubahan dalam pengaturan akses, kegiatan keagamaan maupun kehadiran pejabat Israel di kawasan tersebut kerap mendapat reaksi dari pihak Palestina dan negara-negara Arab.
Saudi Kecam Aksi Ben-Gvir
Arab Saudi secara resmi mengecam masuknya Ben-Gvir dan kelompok pemukim ke kompleks Al-Aqsa.
Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesucian tempat ibadah dan provokasi terhadap umat Islam.
Riyadh juga menyatakan penolakannya terhadap tindakan yang disebutnya sebagai praktik provokatif dan hasutan oleh pejabat Israel terhadap warga Palestina serta tempat-tempat suci di wilayah Palestina yang diduduki.
Saudi menyerukan masyarakat internasional mengambil langkah untuk menghentikan tindakan yang dinilai bertentangan dengan hukum internasional dan hukum humaniter internasional.
Palestina Soroti Status Al-Aqsa
Pemerintah dan kelompok Palestina juga mengecam perkembangan tersebut.
Kantor Pemerintah Kota Yerusalem Palestina menyatakan masuknya pemukim ke halaman Al-Aqsa dengan pengawalan polisi Israel terjadi di tengah meningkatnya aktivitas serupa pada hari-hari besar keagamaan Yahudi.
Masjid Al-Aqsa berada di kompleks yang dikenal umat Islam sebagai Haram al-Sharif, sementara kawasan yang sama memiliki signifikansi keagamaan bagi umat Yahudi.
Perbedaan klaim dan pengaturan akses terhadap kawasan tersebut telah lama menjadi salah satu isu sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Selichot Digelar Menjelang Yom Kippur
Di sisi lain, ritual Selichot merupakan rangkaian doa pertobatan yang dilakukan umat Yahudi menjelang Yom Kippur.
Media Israel melaporkan sekitar 150.000 orang menghadiri rangkaian doa Selichot terakhir di Tembok Barat pada Sabtu malam, termasuk Netanyahu dan istrinya.
Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung di tengah pengamanan ketat di kawasan Kota Tua Yerusalem.
Netanyahu dilaporkan mengikuti doa untuk keselamatan tentara Israel, aparat keamanan dan negara Israel.
Ketegangan Yerusalem Kembali Menjadi Sorotan
Rangkaian kejadian menjelang Yom Kippur memperlihatkan kembali tingginya sensitivitas kawasan Kota Tua Yerusalem.
Di satu sisi, pemerintah Israel dan masyarakat Yahudi menjalankan rangkaian ibadah menjelang Yom Kippur. Di sisi lain, aktivitas pejabat dan pemukim Israel di sekitar kompleks Al-Aqsa mendapat penolakan dari pihak Palestina dan sejumlah negara Arab.
Kecaman Saudi terhadap Ben-Gvir menambah dimensi diplomatik terhadap perkembangan tersebut.
Untuk saat ini, fakta yang terkonfirmasi menunjukkan adanya masuknya Ben-Gvir dan pemukim Israel ke kompleks Al-Aqsa, sementara Netanyahu mengunjungi Tembok Barat dan terowongan di bawah kawasan tersebut serta mengikuti doa Selichot. Kedua peristiwa berlangsung dalam rangkaian kegiatan menjelang Yom Kippur.











Komentar