JurnalPatroliNews | Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah bergerak di kisaran Rp18.016 per dolar AS, melemah 38 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan hari yang sama, rupiah sempat tercatat di sekitar Rp18.011 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap mata uang nasional tersebut tidak berdiri sendiri. Sejumlah faktor global dan domestik secara bersamaan memengaruhi pergerakan rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar keuangan.
“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal,” kata Erwin dalam keterangan tertulisnya.
Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global
Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika harga minyak dunia kembali melonjak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi itu kemudian memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
BI sebelumnya juga mencatat bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber ketidakpastian yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Dalam kondisi tersebut, pasar memperkirakan ruang pengetatan kebijakan moneter AS masih terbuka. Ekspektasi tersebut kemudian berdampak pada meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury.
Yield US Treasury Ikut Naik
Erwin menjelaskan, meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS turut mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun.
Yield tersebut dilaporkan kembali meningkat hingga 5,23 persen, yang disebut menjadi level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan imbal hasil aset Amerika Serikat dapat memengaruhi preferensi investor global. Ketika yield aset berbasis dolar meningkat, sebagian investor cenderung menyesuaikan portofolionya dan mengurangi eksposur terhadap aset pasar berkembang.
Situasi tersebut kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara-negara emerging markets, termasuk rupiah.
BI dalam kajian sebelumnya juga mencatat bahwa kenaikan yield US Treasury dan ketidakpastian pasar keuangan global dapat menahan preferensi investor terhadap aset portofolio di negara berkembang.
Kebutuhan Dolar dari Importir
Tekanan rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan kurs.
Menurut Erwin, permintaan dolar AS dari importir meningkat menjelang berakhirnya triwulan III 2026. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan valas di pasar domestik.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” ujar Erwin.
Permintaan dolar yang meningkat pada saat yang sama dengan keluarnya dana dari aset pasar berkembang membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar.
Arus Dana Keluar Jadi Tekanan Tambahan
Arus keluar portofolio juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan BI.
Kenaikan yield obligasi AS membuat investor global melakukan penyesuaian terhadap komposisi asetnya. Dalam situasi tersebut, aset negara berkembang dapat menghadapi tekanan karena sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi di pasar negara maju.
Tekanan semacam ini sebelumnya juga tercermin dalam kajian BI mengenai kondisi pasar keuangan global. Ketidakpastian yang tinggi dan kenaikan yield US Treasury disebut menahan preferensi investor terhadap aset portofolio emerging markets.
BI Terus Jaga Stabilitas Rupiah
Di tengah tekanan tersebut, BI menyatakan tetap melakukan langkah stabilisasi nilai tukar.
Reuters melaporkan Erwin mengatakan BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah setelah mata uang tersebut mencapai level terlemah sejak 4 Agustus 2026.
Intervensi menjadi bagian dari bauran kebijakan BI untuk meredam volatilitas pasar dan memastikan mekanisme pasar tetap berjalan.
Sebelumnya, BI juga telah menggunakan sejumlah instrumen, termasuk transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), NDF di pasar offshore, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sesuai kondisi pasar.
Dengan demikian, pelemahan rupiah menuju Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan 29 September 2026 merupakan hasil kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Inflasi global, risiko fiskal, kenaikan harga minyak, meningkatnya yield US Treasury, kebutuhan valas importir, serta arus keluar portofolio menjadi sejumlah faktor yang sedang dihadapi rupiah.















Komentar