JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda bergerak menembus level Rp17.900 per dolar AS di pasar spot seiring meningkatnya tekanan dari pasar keuangan global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Bloomberg Technoz, Rupiah sempat melemah 0,58 persen ke level Rp17.904 per dolar AS pada pukul 13.54 WIB. Sekitar setengah jam kemudian, Rupiah kembali melemah hingga Rp17.910 per dolar AS.
Bank Indonesia menyebut tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. Faktor eksternal dan domestik secara bersamaan memengaruhi pergerakan Rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan eksternal terutama berkaitan dengan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat, kekhawatiran inflasi global dan prospek fiskal AS.
“Pelemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Yield US Treasury Sentuh 5,11 Persen
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang meningkat ketika imbal hasil surat utang Amerika Serikat naik.
BI mencatat yield US Treasury tenor 10 tahun menembus 5,11 persen, yang disebut sebagai level tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang, termasuk Rupiah.
Pada perdagangan Kamis, Bloomberg Technoz juga mencatat indeks dolar AS berada di sekitar level 101,2, sementara yield US Treasury 10 tahun bertahan di 5,11 persen.
Tekanan dari pasar obligasi global tersebut kemudian merambat ke pasar valuta asing Asia. Sejumlah mata uang kawasan juga mengalami pelemahan pada perdagangan yang sama.
Harga Minyak Kembali di Atas US$100
Faktor berikutnya datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
BI menyebut ketidakpastian konflik di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Dampaknya terlihat pada pergerakan harga minyak mentah Brent yang kembali berada di atas US$100 per barel.
Bloomberg Technoz mencatat harga Brent sempat naik sekitar 0,63 persen menjadi US$103,73 per barel pada perdagangan Kamis. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Bagi negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak dapat menambah kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang domestik.
Kebutuhan Valas Importir Ikut Menekan
Dari dalam negeri, BI menyebut kebutuhan dolar AS para importir menjelang berakhirnya kuartal III 2026 turut memberikan tekanan terhadap Rupiah.
Selain itu, terdapat arus keluar portofolio dari sejumlah aset di pasar negara berkembang (emerging markets). Kombinasi kebutuhan valas dan pergerakan modal tersebut membuat tekanan terhadap pasar Rupiah semakin terasa.
Meski demikian, BI menyatakan pergerakan Rupiah secara umum masih bergerak sejalan dengan mata uang kawasan.
BI mencatat secara quarter-to-date (qtd), Rupiah masih mengalami penguatan sebesar 0,46 persen.
BI Perkuat Intervensi
Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan stabilisasi pasar tetap dilakukan.
Erwin mengatakan bank sentral terus hadir di pasar untuk menjaga nilai tukar tetap bergerak sesuai fundamental sekaligus memastikan mekanisme pasar berlangsung dengan baik.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik,” tegas Erwin.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang.
Salah satu langkahnya melalui peningkatan insentif swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada perbankan dalam rangka pendanaan luar negeri. Selain itu, transaksi underlying diperluas mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank dan foreign direct investment.
Intervensi Melalui NDF hingga SBN
Stabilisasi juga dilakukan melalui sejumlah instrumen di pasar valas dan surat berharga.
BI menjalankan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk menjaga likuiditas serta mengurangi tekanan berlebihan di pasar valuta asing ketika sentimen global bergerak volatil.
Pada 23 September 2026, BI juga mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan itu disebut tetap diarahkan untuk memperkuat stabilitas Rupiah, menjaga inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Cadangan Devisa Masih Kuat
Di tengah tekanan nilai tukar, posisi cadangan devisa Indonesia masih menunjukkan peningkatan.
BI mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Kondisi tersebut menjadi salah satu penyangga sektor eksternal Indonesia ketika pasar keuangan global mengalami volatilitas.
Dengan tekanan yang berasal dari kombinasi kenaikan yield surat utang AS, harga minyak, ketidakpastian geopolitik, kebutuhan valas importir dan arus modal, pergerakan Rupiah pada perdagangan Kamis masih menjadi perhatian pasar.
BI menyatakan stabilisasi akan terus dilakukan melalui kombinasi intervensi pasar, penguatan operasi moneter dan koordinasi dengan korporasi serta pelaku pasar.















Komentar