JurnalPatroliNews | Frankfurt – Demonstrasi nasional yang digerakkan kelompok anak muda di Jerman berakhir ricuh pada Sabtu (31/10/2026). Aksi yang semula berlangsung damai itu diwarnai bentrokan di sejumlah kota, penjarahan toko, hingga pelemparan bom molotov ke arah petugas kepolisian.
Frankfurt menjadi salah satu lokasi dengan eskalasi kericuhan paling menonjol. Polisi mengerahkan meriam air dan semprotan merica untuk membubarkan massa yang melemparkan batu, kembang api, serta benda-benda lainnya ke arah aparat.
Demonstrasi tersebut diikuti puluhan ribu orang dan diorganisasi oleh kelompok “GenZ regelt!”, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “Gen Z mengambil kendali”. Gerakan ini terinspirasi aksi serupa di Prancis dan Italia yang mendorong para elite politik agar lebih memperhatikan persoalan serta aspirasi generasi muda.
Pada awalnya, unjuk rasa berlangsung relatif damai. Namun, situasi berubah pada malam hari ketika sejumlah kelompok massa menolak membubarkan diri setelah rangkaian demonstrasi utama berakhir.
Di Frankfurt, sejumlah etalase pertokoan dilaporkan pecah. Kawasan pusat perbelanjaan utama juga ditutup untuk mengendalikan situasi dan membatasi pergerakan massa.
“Kerusuhan hebat sedang terjadi. Jendela-jendela di beberapa toko telah dihancurkan. Bom molotov juga dilemparkan ke petugas darurat,” demikian pernyataan kepolisian yang dikutip AFP.
Toko Senjata hingga Gerai Parfum Jadi Sasaran
Kericuhan di Frankfurt turut diwarnai aksi penjarahan. Sejumlah toko menjadi sasaran, termasuk toko sepatu olahraga, parfum, dan sebuah toko senjata api.
Polisi menangkap seorang terduga pelaku dalam rangkaian insiden tersebut. Aparat juga menyita dua senjata, meskipun jenis senjata yang diamankan belum dijelaskan secara terperinci dalam laporan yang tersedia.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, menyebut sekitar 100 orang yang telah diidentifikasi sebagai ekstremis sayap kiri diduga menyusup ke dalam demonstrasi di Frankfurt.
“Sungguh memalukan bagaimana acara di Frankfurt ini berakhir,” ujar Poseck.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pejabat setempat terkait situasi keamanan. Adapun keterlibatan setiap individu dalam tindak kekerasan tetap memerlukan pembuktian melalui proses hukum.
Kericuhan Meluas ke Sejumlah Kota
Bentrokan juga dilaporkan terjadi di Hamburg dan Cologne. Di kedua kota tersebut, polisi menggunakan meriam air setelah petugas layanan darurat menjadi sasaran lemparan kembang api, batu, dan botol.
Insiden lain dilaporkan terjadi di Berlin, Leipzig, Bonn, serta beberapa kota lainnya. Sejumlah orang ditangkap dalam rangkaian kericuhan tersebut, sementara beberapa anggota kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka.
Meski demikian, laporan media Jerman dan AFP menyebut sebagian besar demonstrasi pada siang hari berlangsung damai. Kericuhan lebih banyak terjadi pada sejumlah titik setelah kegiatan utama berakhir.
Biaya Hidup hingga Wajib Militer Jadi Sorotan
Di balik aksi demonstrasi tersebut, para peserta menyuarakan sejumlah persoalan yang dinilai berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda Jerman.
Tuntutan mereka mencakup tingginya biaya hidup, kondisi fasilitas pendidikan, pemangkasan anggaran pemerintah, serta peningkatan belanja militer. Rencana penerapan model wajib militer sukarela juga menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian.
Kelompok “GenZ regelt!” mengklaim sekitar 120.000 orang mengikuti aksi nasional yang digelar di berbagai kota. Angka tersebut merupakan klaim penyelenggara, bukan angka yang telah dikonfirmasi secara independen.
Penyelenggara juga menegaskan bahwa gerakan mereka tidak mendukung tindakan kekerasan maupun aksi kelompok ekstremis.
“Kelompok ekstremis, simbol anti-konstitusional, rasisme, dan ujaran kebencian tidak memiliki tempat bagi kita, tidak peduli dari pihak mana,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Rangkaian peristiwa pada 31 Oktober itu memperlihatkan bahwa demonstrasi yang membawa aspirasi generasi muda dapat berlangsung berdampingan dengan persoalan keamanan ketika sebagian kelompok melakukan tindakan kekerasan. Aspirasi peserta aksi dan tindakan melanggar hukum oleh individu atau kelompok tertentu perlu dibedakan dalam melihat keseluruhan peristiwa tersebut.















Komentar